Jumat, 09 Juli 2010

FUJIYAMA OLEH SUNYOTO (BAB III)

3. FUJIYAMA BERSELIMUT

Senin, 25 Pebruari 2008 setelah sholat subuh, saya sedikit panik. Uang yang tersimpan di dalam amplop tidak saya temukan, jangan-jangan tertinggal di toko buah Hanamasa kemarin, sewaktu belanja minuman. Segera saja semua tas saya bongkar isinya, satu demi satu saya membuka amplop dan juga map sekali lagi, juga pakaian-pakaian yang tertata di dalamnya, lagi, lagi dan lagi.
Lalu plong (lega) rasanya, ternyata uang itu berada di tas hitam yang kemarin saya bawa. Untung berhasil ditemukan, kalau tidak bisa mbambung (orang gelandangan tidak punya rumah tempat tinggal tetap, tidak punya pekerjaan tetap, tidak punya uang). Dengan suka cita saya segera masuk ke kamar mandi, mengguyur badan ini dengan air hingga puas.

Kemudian kami makan pagi di restoran hotel. Menu pagi itu : bubur jagung, sup asparagus, kentang goreng. Supaya lebih kenyang ditambah dengan roti, buah dan orange jus. Selepas makan pagi kami harus berkemas dan check out dari Grand New Hotel di Hamamatsu guna meneruskan perjalanan.
Bus Seian Kanko membawa kami serombongan ke Godo Solution, perusahaan yang bergerak dibidang IT perancangan permesinan. Produknya antara lain dipesan oleh Yamaha, Honda dan Nissan. Di sini pegawai bekerja membuat design dalam ruangan kecil yang hanya berisi 6 orang. Perusahaan ini menerapkan efisiensi dalam hal tenaga kerja. Etos kerja dan disiplin karyawan di situ sangat tinggi. Andai di Indonesia terutama di lembaga-lembaga pendidikan dan kantor Pemerintah menerapkan cara kerja seperti ini, tentu kemakmuran dan kemajuan lebih mudah tercapai.
Untuk perusahaan ini, SMK Negeri 1 Jember memberikan souvenir berupa kerajinan sebuah patung sepeda kayu kecil. Perwakilan dari perusahaan itu kelihatan sangat senang menerima souvenir dari kami. Dari sekolah-sekolah lain juga memberi souvenir pula, ada yang berbentuk batik, wayang kulit, lukisan dari alumunium dan lain sebagainya.

Selama perjalanan dari hotel sampai ke Godo, Grace bercerita bahwa tarif tol di Jepang sangat mahal, sehingga tarif (ongkos) taksi dan kendaraan pribadi juga mahal. Kalau dari bandara menuju kota yang murah adalah naik bis umum, ”Di sini tidak ada angkot lho” selorohnya.
Penduduk Jepang diharuskan ikut asuransi kesehatan. Kartunya berlaku sebagai ID card sebagai pengganti KTP. Pedagang, petani, pegawai swasta juga membayar uang dana pensiun sampai umur 60 tahun. Rata-rata mereka harus menyisihkan 13.000 yen per bulan. Ketika umur 61 tahun mereka berhak mendapat uang pensiun kurang lebih 30.000 yen setiap bulan.

Pendapatan penduduk, misalnya saja sopir bus yang kami tumpangi itu, 6 juta yen per tahun, pembantu rumah tangga 12.000 yen per hari dengan jam kerja 7 pagi -11 malam. Pokoknya gaji orang Jepang rata-rata 7 kali lipat dibanding dengan di Indonesia. Masih menurut Grace, makanan dan lingkungan di Jepang sangat dijaga kesehatanya, tidak ada lalat beterbangan di restoran atau di tempat sampah, di tepi jalan sekalipun. Sampah dikumpulkan di tempat tertentu, dibungkus tas atau karung plastik secara rapi yang pada gilirannya di angkut truk sampah menuju ke tempat pembakaran sampah berupa gedung tertutup dan kelihatan bersih.
Pemerintah Jepang tidak mau penduduknya banyak yang jatuh sakit, sehingga kebersihan dan kesehatan mendapat perhatian serius. Jalan-jalan di sana tidak pernah banjir dan selalu bersih.

Mengutip situs Wikipedia, dinyatakan bahwa kepadatan penduduk yang tinggi dan usia mayoritas penduduk yang semakin tua mengakibatkan penurunan jumlah penduduk. Hal ini mengakibatkan peningkatan biaya pemeliharaan kesehatan yang harus ditanggung pemerintah semakin berat. Di masa depan, industri robot diperkirakan menjadi kekuatan ekonomi yang amat penting. Sejumlah 410.000 dari 720.000 buah robot yang beroperasi di seluruh dunia berada di Jepang.
Oke lah sekarang kita kembali lagi pada kisah perjalanan selanjutnya. Pukul 01.20 kami sampai di Rumah Makan Sakura, Fujikawa. Waktu itu suhu udara -2°C sampai -3°C, dingin sekali. Kalau di Jember dingin-dingin gini enak sekali makan masakan yang pedas biar badan terasa hangat. Tetapi di Jepang jangan harap ada makanan seperti itu. Menu makan hari itu khas makanan Jepang yang belum familiar dengan lidah kami. Tak apa lah yang penting kenyang, stamina bugar untuk meneruskan perjalanan ke Gunung Fuji atau Fujiyama yang terkenal itu. Mendaki dengn bus namun tidak sampai ke puncak, hanya sampai di level yang diperbolehkan. Waktu itu kami diperbolehkan sampai pada level 5 dari semua level (kalau tidak salah ada 9 level), jadi kami tidak capek sama sekali.

Gunung Fuji adalah gunung tertinggi di Jepang, terletak di perbatasan Shizuoka dan Yamanasi, di sebelah barat Tokyo. Gunung Fuji berdekatan dengan pesisir pasifik di pusat Honshu. Fuji dikelilingi oleh tiga kota yaitu Gotemba (timur), Fuji Yoshida (utara) dan Fujinomiya (barat daya). Gunung setinggi 3776 m ini dikelilingi juga oleh lima danau yaitu Kawaguchi, Yamanaka, Sai, Motosu, dan Shoji. Fujiyama diperkirakan terbentuk sekitar 10.000 tahun yang lalu. Sebuah gunung berapi yang kini tak lagi aktif, terakhir meletus pada tahun 1707.
Jepang merupakan negara yang kaya legenda dan cerita rakyat. Dengan wilayah yang lebih dari 60%-nya merupakan daerah pegunungan, membuat banyak legenda dan cerita rakyat yang berlatar belakang daerah pegunungan. Gunung Fuji yang terletak di pulau Honshu merupakan gunung yang paling terkenal di Jepang, dan salah satu gunung yang ternama di dunia. Keberadaan gunung Fuji erat dengan masyarakat Jepang, terkait dengan tradisi maupun kepercayaan mereka.

Gunung Fuji dianggap tempat yang suci sampai masa restorasi Meiji, dimana sebagian kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal tersebut dilarang. Namun gunung Fuji tidak lantas kehilangan popularitasnya. Di masa sekarang gunung Fuji bukan hanya menjadi ciri khas Negara Jepang, namun menjadi salah satu obyek wisata yang diunggulkan. Masyarakat Jepang maupun turis asing berbondong-bondong melakukan perjalanan ke Fujiyama. Konon pada jaman dahulu, wanita sempat dilarang untuk melakukan perjalanan atau mendaki gunung Fuji.
Asal usul gunung Fuji tertuang dalam salah satu legenda rakyat yang mengisahkan terciptanya gunung tersebut dalam satu malam. Dikisahkan, adalah Visu, seorang penebang kayu yang hidup di sebuah pondok bersama anak istrinya yang tiba-tiba terbangun pada suatu malam karena guncangan suara keras dari dalam tanah.
Visu segera membawa anak dan istrinya keluar karena mengira terjadi gempa bumi. Namun saat ia melangkahkan kaki keluar dari pondoknya, daerah sekitar tempat tinggalnya yang pada awalnya merupakan daratan luas berubah menjadi sebuah gunung. Visu begitu kagum sehingga menamai gunung itu “Fujiyama” (sumber www.mapala-upn-yk.org)

”Hari ini kita sedang mujur karena Fujiyama begitu kelihatan detailnya meski dari kejauhan” Kata Grace
”Semakin dekat semakin mempesona” tambahnya pula.
Bus yang kami tumpangi melaju semakin dekat dengan kaki Fujiyama. Mata seluruh penumpang bus Seian Kianko tersihir oleh keindahan gunung Fuji dan tak mau lepas memandangnya. Jalan beraspal halus mulus mulai menanjak dan makin menanjak, di sisi kiri dan kanan jalan mulai kelihatan gumpalan salju memutih indah, lalu sampailah kami ke pintu masuk wisata Fujiyama. Subhanallah walhamdulillah hamparan salju putih bertebar diseluruh permukaan hutan di sela-sela pepohonan yang sebagian besar daunnya meranggas. Sungguh, sebuah pengalaman baru yang sangat berkesan bagi saya. Salju yang menempel di dedaunan atau ranting pepohonan terlihat sangat indah seperti hiasan pada pohon Natal di gereja-gereja. Sayang di hutan itu tidak kelihatan seekor binatangpun, mungkin mereka menyingkir menghindari dinginnya salju. Kalau malam tiba jalanan beraspal yang halus mulus menuju puncak Fujiyama itu tertutup salju tebal. Kemudian menjelang pagi dibersihkan oleh petugas menggunakan kendaraan pemecah dan pembersih salju yang selalu siap di situ.

Oleh karenanya, pelancong tidak boleh pulang terlambat, ketika salju mulai menutup jalan beraspal itu, pastilah tidak bisa pulang karena licin, padahal di atas tidak ada penginapan. Infonya di level 7 atau sembilan di atas sana ada bangunan tempat pemujaan, sayang kami tidak bisa sampai ke sana.
Akhirnya bus kami berhenti sampai level 5 dari keseluruhan 9 level. Kami tidak diperkenankan menuju level lebih tinggi lagi saat itu, karena salju sangat tebal, berbahaya bagi pelancong yang mendaki naik kendaraan (bus). Saat itu pintu level 5 ditutup. Bersama kami ada pula pelancong lain yang juga menggunakan kendaraan bus, tidak ada yang menggunakan kendaraan pribadi, tidak ada pula yang berjalan kaki.
Level 5 berketinggian 2020 m diatas permukaan laut. Bandingkan saja dengan gedung bertingkat, jika satu lantai saja tingginya 3 meter kalau tingkat 10 hanya 30 m. Berarti berapa kali lipat gedung bertingkat, yang sudah kami daki di gunung Fuji.
Di sini kami berfoto-foto, bermain salju dan saya mencoba menjilat salju seperti apa rasanya, ternyata segar seperti air tawar. Salju bila dipegang sekilas tidak terasa dingin, tetapi setelah mulai mencair berubah menjadi sangat dingin. Pak Edy Sartono dari Gresik bahkan membuka baju serta kaos singletnya, lalu tidur telentang di hamparan salju beberapa saat untuk difoto sebagai kenangan, padahal dinginnya tak alang kepalang.

Ibu Supartini dari Malang dan ibu Sri Supartini dari Surakarta ingin foto seperti dibawah guyuran hujan salju. Gampang, saya meraih sebongkah salju lalu diremas halus dan saya hamburkan dari jarak tertentu, di tempat yang agak tinggi ke tubuhnya sambil di ambil gambarnya oleh teman lain. Wow...! hasilnya spektakuler seperti benar-benar berfoto ketika hujan salju.
Grace meilih berdiam di Bus karena tidak tahan dingin, dia terlihat puas mengantar kami karena jelas terlihat kami pun senang. Setelah cukup puas kami segera masuk bus, rasanya lebih dingin daripada saat bermain di hamparan salju tadi. Untung bus itu dilenhgkapi pengatur suhu panas-dingin.
Puncak keindahan Fujiyama adalah saat musim salju tertimpa sinar mentari, kelihatan indah, putih bersih seperti kapas dihamparkan ke seluruh puncak bukit. Keindahan khas lain di sana adalah ketika musim bunga sakura. Saya kesana saat musim salju sehingga bunga sakura masih belum mekar. Subhanallah alhamdulillah, telah Kau beri kesempatan untuk menyaksikan kebesaran-Mu di sini.
Saya belum pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri sebelumnya, tak bisa terlukiskan keindahan gunung bersalju itu. Saya membayangkan bahwa di situ tiba-tiba ada kereta sinterklas yang ditarik beberapa ekor rusa, seperti dalam lukisan-lukisan natal. Itulah yang menyebabkan panorama ini menjadi lebih menarik dan melekat kuat dalam benak saya.

Sayang waktu pulang segera tiba, bus yang kami tumpangi segera meluncur turun gunung. Di dalam bus, saya masih membayangkan sinterklas dengan keretanya yang ditarik rusa bertanduk. Membayangkan kereta itu berisi sejumlah hadiah untuk anak-anak yang berbakti. Juga dilengkapi dengan kantung untuk membawa anak yang durhaka pada orang tua untuk dibawa ke sorga atau ke neraka jahanam.
Tiba-tiba saja kereta muncul dari puncak Fujiyama yang bersalju tebal melintas. Saya sempat menyaksikan malaikat bernama sinterklas berseragam merah dengan topi kuncirnya itu datang dari swarga loka. Itulah indahnya ....
Tidak salah bila dulu penyanyi Titik Sandhora yang lama tinggal di negeri sakura menyanyikan lagu Fujiyama dalam syair bahasa Indonesia. Intinya memuji keindahan gunung Fuji yang dilihat dari kejauhan, puncaknya berkilauan salju putih tertimpa sinar matahari.

Kunjungan ke Fujiyama itulah yang paling berkesan. Seumur-umur baru kali ini saya bisa berada di gunung bersalju dan bisa merasakan dinginnya secara langsung. Bisa kupegang dinginnya, bisa kuremas dan kuhamburkan seperti kapas, bila padat dapat kurasakan keras dan licinnya bongkah batu es saat kaki menjejak. Bila jatuh di atas tumpukan salju yang tidak padat tidak akan terasa sakit, tetapi jangan coba-coba menjatuhkan diri di salju yang padat, kerasnya seperti batu.
Benar-benar bangga dan bersyukur pada akhirnya bisa menyaksikan semua itu. Puas sudah rasa hati dalam kunjungan hari ini. Sebagai ungkapan perasaan, saya sempat menulis sebait puisi saat perjalanan pulang dari Fujiyama sebagai berikut,

FUJI YAMA

Alhamdulillah
Atas ijin-Mu kusaksikan dengan mataku

Hamparan putih salju
Bertebar di kiri kanan jalan ku.
dingin raga kepulkan asap lewat mulutku
Membuka keyakinan akan kebesaran-Mu

Subhanallah
Kau perkenankan aku hadir di situ
Di puncak Fujiyama aku terharu
betapa kecilnya aku
kotor dan lemah dihadap-Mu

Pintaku jangan halangiku
tuk mendekat-Mu.

Jepang Peb 2008

(SIMAK TERUS DI BAB IV BERIKUT)

oooOooo

FUJIYAMA OLEH SUNYOTO (BAB II)

2. Jangan Takut Bermimpi.

Sejatinya saya tak pernah berani memimpikan pergi ke luar negeri. Realistis saja, saya ini siapa ? Saya tak punya cukup uang ! jika pun ada, jumlah itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kami sekeluarga plus biaya sekolah anak-anak. Tetapi ternyata saya salah, “Banyak jalan menuju Roma” begitu bunyi pepatah yang terkenal itu. Orang harus punya mimpi (cita-cita) yang tinggi. Dengan harapan suatu saat mimpi itu menjadi kenyataan.

Mimpi atau cita-cita itu penting guna merangsang otak agar berfikir tentang mimpi itu tadi. Bila mimpi itu hanya difikirkan saja, maka akan tetap menjadi khayalan sehingga kita hidup dalam alam khayal. Agar mimpi itu menjadi nyata kita harus melakukan action atau tindakan dan upaya yang keras dalam merintis terwujudnya mimpi itu.

Ada seorang murid saya yang menyukai pernak pernik Jepang, kesukaannya itu pada akhirnya mendorong si anak mengabadikan khayalannya tentang Jepang dalam bentuk lukisan ala Jepang. Mulai dari bunga sakura, gadis berkimono, pendekar samurai dan lain-lain, semua serba Jepang.

Demikian itu adalah salah satu bentuk mimpi yang dinyatakan dalam aktifitas nyata, kalau mau siswa ini bisa saja suatu saat datang ke Jepang melalui program beasiswa, diawali dengan berusaha keras belajar bahasa Jepang, lalu seni dan budaya Jepang, kemampuan akademis yang mumpuni dan mencoba keberuntungan ikut tes di kedutaan Jepang.

Contoh lain, saya sering

mengelilingi dunia kemudian berusaha keras dengan berbagai upaya, misalnya dengan bersepeda angin, bersepeda motor atau naik kapal sendirian. Wow, benar-benar spektakuler !

Setelah gagal berangkat ke Jepang, saya mulai memimpikan keliling dunia selagi bisa. Sesekali melihat kehebatan negara lain itu perlu, dengan demikian kita dapat memetik berbagai hikmah dari pengalaman itu dan bisa pula mencecap hal-hal positif. Syukur-syukur bisa diterapkan untuk kemajuan negeri ini.

Jadi, bukan sekedar latah meniru langkah Presiden, para pejabat atau anggota DPR yang sedang demam studi banding ke luar negeri. Karena saya adalah seorang pegawai negeri sipil maka cara yang saya tempuh adalah ketika ada kesempatan dinas, agar tidak mengganggu tugas saya sehari-hari.

Sekitar Februari 2008, datang sebuah berita menggembirakan, saya akan diberangkatkan ke Jepang. Sebetulnya masih ada sedikit keraguan (trauma) karena kegagalan berangkat ke Jepang tempo hari. Untuk meyakinkan kebenaran berita itu saya harus menghubungi banyak pihak termasuk rekan sejawat sesama kepala sekolah, yang dulu gagal berangkat. Kali ini saya tidak berani memberi tahu siapapun, sebelum yakin dengan keberangkatan itu sendiri, takut mendapat malu lagi.

Ya, memang benar, adalah langka seorang guru bisa pergi ke luar negeri tanpa dibiayai negara. Jadi, satu-satunya harapan untuk bisa pergi ke luarnegeri adalah untuk urusan dinas yang dibiayai negara.

Banyak hal positif bisa dipetik dari pengalaman pergi ke luar negeri. Insya Allah pengalaman itu dapat memberikan motivasi dan inspirasi untuk pengembangan pendidikan di dalam negeri. Untuk urusan ini, saya salut kepada Pemkab. Jember yang berani mengagendakan studi edukasi ke luar negeri bagi kepala sekolah, guru, siswa dan juga staf tata usaha yang berprestasi, secara bergilir. Saya yakin, semakin banyak personil pendidikan yang diberikan kesempatan ke luar negeri, semakin berdampak positif bagi perkembangan dunia pendidikan itu sendiri.

Saya mulai mengikuti proses meraih mimpi itu. Proses dan usaha keras adalah bagian yang harus dilakukan agar mimpi menjadi kenyataan. Bulan Desember 2007 saya dipanggil Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jakarta, untuk sekali lagi meakukan pendaftaran dengan mengisi berbagai form isian seperti yang pernah saya lakukan September 2007 silam.

Mulai data pribadi hingga data sekolah saya lengkapi, ini penting karena saya masuk kategori tugas dinas atas nama sekolah sebagai Kepala SMK Negeri 1 Jember. Tak lupa saya mengumpulkan pas foto untuk kelengkapan pengurusan paspor dan visa.

Pengisian form ini serasa mengorek luka lama, rasa kecewa akibat gagal berangkat tahun lalu. Namun, semangat meraih mimpi mengalahkan perihnya luka, mimpi ini harus diperjuangkan dengan keras, maka proses ini saya lakukan sekali lagi dengan harapan semoga tidak gagal lagi. Kali ini kinerja Direktorat lebih cermat karena jumlah peserta yang diurus lebh sedikit dibanding tahun periode sebelumnya.

Ketika saya menanyakan berapa orang yang mengurus paspor dan visa, ternyata semua rekan kepala sekolah yang dulu gagal berangkat ke Jepang namanya tercantum dalam daftar itu. Setiap ada perkembangan baru kami selalu diberi kabar oleh Bu Ita, seorang staf Direktorat yang khusus bertugas menangani keberangkatan kami. Sebagai penyeimbang saya pun sering melakukan kontak balik demi datangnya sebuah kabar baik. Selain itu saya juga aktif menghubungi Pak Masrukin, Kepala SMK Negeri 1 Pogalan Trenggalek yang dulu juga gagal berangkat. Ternyata dia belum tahu tentang hal ini, segera saja dia mengurus ke Jakarta untuk mendaftarkan diri.

Awal Januari 2008 saya mendapat kabar dari Jakarta bahwa paspor dan visa sudah beres. Jadi tinggal menunggu jadwal keberangkatan yang diperkirakan sekitar bulan Pebruari. Masa-masa yang menggelisahkan pun dimulai, masa menunggu kepastian tanggal keberangkatan, serta jadi tidaknya berangkat.

Akhirnya, pada tanggal 23 Pebruari 2008 pukul 22.10 WIB, jadi juga saya terbang ke Jepang dengan menumpang JAL bernomer penerbangan 726. Saya mendapat tiket kelas ekonomi, tak mengapa yang penting jadi berangkat ke Jepang. Ketika pesawat mulai take off, gedung-gedung bertingkat di Jakarta nampak seperti hutan kubus.

Rombongan kali ini berjumlah 22 orang, terdiri dari 1 orang Tour Leader ITC Tour Jakarta, Gusmar namanya. 17 orang Kepala SMK SBI dari berbagai propinsi di Indonesia termasuk saya ditambah dengan 4 orang staf Depdiknas Jakarta. Perjalanan memakan waktu 8 jam, sebagian besar waktu di pesawat saya manfaatkan untuk tidur karena payah. Dan lagi suasana di luar gelap gulita sehingga percuma saja, tidak ada pemandangan yang bisa disaksikan.

Saya hanya dapat melihat sorot lampu di sayap pesawat. Sesekali saya terbangun lantas menyaksikan layar TV kecil yang terpasang di setiap bagian belakang sandaran kursi pesawat sambil menikmati hidangan yang senantiasa disajikan oleh pramugari.

Selama 8 jam penerbangan kami mendapat jatah 2 kali makanan kecil, 1 kali makan malam yang dihidangkan gratis oleh para pramugari nan rupawan yang asli Jepang. Mereka rata-rata tinggi semampai persis seperti para pramugari Indonesia. Rata-rata bertinggi badan di atas 165 cm. Semua pramugari berkomunikasi dalam bahasa Inggris style Jepang dan Bahasa Jepang. Pilot pun dalam memberi info juga dalam bahasa Jepang dan juga Inggris.

Menu minuman boleh pilih apel juice, orange juice, water, aneka soft drink dan yang menghangatkan seperti coffee dan green tea. Menu makan boleh pilih salah satu antara ayam dan ikan laut.

Pesawat JAL ini berukuran besar. Terbagi dalam 3 kelas, yaitu : paling depan kelas eksekutif dengan kapasitas 30 kursi. Di belakangnya adalah kelas bisnis dengan jumlah seat 180 kursi. Dan paling belakang, yang saya tempati, kelas ekonomi berjumlah 180 kursi.

Tarif kelas ekonomi waktu itu USD 427 (setara dengan Rp 3.971.100,- dengan kurs Rp. 9.300 per USD), airport tax & flight insurance sebesar USD 233.50 (setara dengan Rp 2.171.550,-) untuk sekali perjalanan.

***

Sedikit mengenal negara yang akan saya kunjungi. Saya cuplik dari berbagai sumber. Jepang yang dalam bahasa Jepang disebut Nippon atau Nihon, secara harafiah dapat diartikan sebagai "asal-muasal matahari". Negara ini adalah sebuah negara di Asia Timur yang terletak di suatu rantai kepulauan benua Asia di ujung barat Samudera Pasifik. Pulau-pulau besar membentang dari utara ke selatan, pulau Hokkaido, pulau Honshu (pulau terbesar), pulau Shikoku dan pulau Kyushu. Beberapa pulau kecil berada berdekatan dengan keempat pulau ini termasuk sebuah kelompok pulau-pulau kecil yang berada di sebelah selatan di Okinawa.

Nippon atau Nihon dalam bahasa Jepang ditulis dalam huruf Kanji. Sebutan Nippon sering digunakan dalam urusan resmi, sedangkan Nihon biasanya digunakan dalam urusan tidak resmi, seperti pembicaraan atau percakapan harian. Kata Nippon dan Nihon juga berarti "negara matahari terbit". Nama ini berasal dari utusan resmi negara China, dan merujuk kepada kedudukan relatif Jepang di sebelah timur benua Asia. Sebelum itu, Jepang dikenal sebagai Yamato. Kata Jepang dalam bahasa Indonesia diturunkan dari kata Jepun, berasal dari Bahasa Kanton yang membawa sebutan Yat Pun. Sebutan resmi Jepang dalam bahasa Jepang ialah Nipponkoku atau Nihonkoku, yang berarti negara Jepang.

Industri konstruksi Jepang dibantu oleh proyek sipil yang besar. Salah satu proyek yang paling terkenal adalah Bandara Internasional Kansai yang dibangun di atas sebuah pulau buatan, proyek pembangunan bandara ini menelan dana USD 30 milyar. Ekonomi pasar bebas dan industri Jepang merupakan nomer ketiga terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan RRC dilihat dari segi paritas daya beli internasional. Ekonominya sangat efisien dan bersaing dalam area yang berhubungan dengan perdagangan internasional tetapi produktivitas lebih rendah di bidang agrikultur, distribusi, dan pelayanan. HDI (Human Development Index – Indeks Pembangunan Manusia) menduduki peringkat ke-9. Reporters without borders atau kebebasan pers berada pada peringkat ke-44 sedangkan PDB per kapita berada pada peringkat ke-17.

Pertumbuhan penduduk Jepang diperkirakan akan berhenti sama sekali karena wanita lebih memilih berkarir. 20% penduduk berumur lebih dari 65 tahun pada tahun 2007. Perubahan dalam struktur demografi telah menimbulkan pelbagai isu sosial, terutama potensi penurunan tenaga kerja dan peningkatan biaya keselamatan sosial seperti rencana cuti umum. Ahli demografi pemerintahan Jepang kini dalam perdebatan hangat mengenai cara menangani masalah ini. Imigrasi dan penggalakan kelahiran kadangkala dicadangkan sebagai satu cara penyelesaian untuk membekali tenaga kerja muda untuk menyokong pertumbuhan masyarakat yang semakin tua ini dengan serikat buruh (shunto); hubungan baik dengan birokrasi pemerintahan, dan jaminan karir sepanjang hayat (shushin koyo) untuk hampir sepertiga tenaga kerja di kota, dan jaminan kontrak kerja bagi buruh. Perusahaan kecil dan sederhana, wanita, dan pekerja asing biasanya tidak mempunyai fasilitas seperti itu. Bagaimanapun, kebanyakan ciri tersebut semakin terkikis, dan keadaan ekonomi kini sedang berhadapan dengan situasi stagnasi.

Perindustrian merupakan sektor ekonomi yang paling utama buat Jepang yang amat bergantung pada impor bahan mentah dan minyak. Pertanian yang merupakan sektor ekonomi yang kecil, mendapatkan subsidi yang tinggi dan merupakan satu sektor ekonomi yang dilindungi. Hal Ini dapat dilihat dengan jelas pada pertanian yang melibatkan beras. Beras yang diimpor dikenakan pajak sebanyak 490% dan pemerintah hanya membolehkan kuota sebanyak 3% dari jumlah beras yang ada di pasaran beras. Selain melindungi pasaran beras, Jepang juga mengadakan usaha untuk menciptakan buah-buahan dan sayur-sayuran yang berkualitas tinggi dan enak. Biasanya Jepang mampu menampung keperluan beras rakyatnya sendiri, kecuali beras yang dipakai untuk membuat makanan ringan dan makanan olahan. Namun negara ini perlu mengimpor kira-kira 50% kebutuhan serealia dan makanan ternak. Jepang mempunyai salah satu industri perikanan yang terbesar di dunia yang mencakup hampir 15% penangkapan ikan seluruh dunia. Ada dugaan bahwa industri perikanan Jepang mengakibatkan jumlah ikan di laut berkurang secara drastis, khususnya ikan tuna.

Secara keseluruhan, selama tiga dekade, pertumbuhan ekonomi sebenarnya amat mengagumkan: rata-rata 10% pada dekade 60-an, rata-rata 5% pada 70-an, dan rata-rata 4% pada 80-an. Pertumbuhan ini mulai melesu pada dekade 90-an, terutama disebabkan dampak sampingan perburuhan secara berlebihan selepas tahun 1980-an dan dasar-dasar ekonomi pengurangan inflasi yang bertujuan membebaskan diri dari kelebihan spekulasi pasaran saham dan harga penjualan tanah. Usaha-usaha pemerintah untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi kurang berhasil dan terus terjepit pada tahun 2000 samapai tahun 2001.

Hal itu menyebabkan PM Junichiro Koizumi mengesahkan atau meluluskan - tetapi adakalanya gagal - Undang-undang perburuhan asing dan swastanisasi secara besar-besaran yang dipercaya dapat membantu merangsang kembali ekonomi Jepang. Sejauh ini Undang-undang tersebut kelihatan menunjukkan hasil dalam berbagai aspek seperti perburuhan asing, namun sejauh ini juga belum dapat membantu ekonomi Jepang untuk tumbuh kembali. Perdana Menteri Koizumi berhasil meluluskan rancangan swastanisasi besar termasuk swastanisasi semua kantor pos Jepang.

***

Yang jelas Jepang adalah negara maju dalam banyak hal sehingga datang ke sana lalu melakukan pengamatan langsung adalah sebuah pengalaman positif yang menguntungkan bagi seorang guru seperti saya.

Kita kembali pada cerita perjalanan saya ke Jepang. Minggu pagi pukul 07.20 waktu Jepang atau pukul 05.20 WIB, kami mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Narita.

Sedikit tidak nyaman ketika pesawat akan landing. Angin bertiup begitu besar sehingga pesawat terasa berguncang seperti bus yang sedang melintas di jalanan bergelombang dan berlubang. Untungnya hanya sebentar, sehingga tak lama kemudian pesawat bisa mendarat dengan lancar. Kami serombongan menuju pintu keluar dan berderet satu demi satu dengan tertib, diperiksa oleh petugas imigrasi sebelum keluar dari bandara. Masing-masing memerlukan waktu 10 sampai 15 menit.

Setiap orang yang masuk ke Jepang akan difoto otomatis (CCTV) ketika berdiri di depan counter pemeriksaan. Ketika semua sudah beres, kami bergegas keluar bandara. Seorang guide yang dipersiapkan oleh ITC Travel telah siap menjemput.

Kesan pertama ketika keluar dari bandara, angin basah mengandung es menerpa cukup keras, dingin sekali, udaranya bersih, tidak ada debu beterbangan. Mulut mengepulkan asap tiap kali berbicara, padahal saya tidak sedang merokok. Mungkin kalau difoto layaknya Cowboy Amerika dalm film-film yang saat berbicara mengepulkan asap akibat udara dingin di sekelilingnya.

Kami bergegas masuk ke dalam bus wisata yang sudah disiapkan untuk membawa ke tujuan berikutnya. Saya dan rombongan dijemput Grace Tanaka, pemandu kami selama di Jepang. Perempuan ini kelahiran Jakarta tetapi berdarah Jepang. Tinggi badannya kira-kira 160 cm. Dengan berat badan ideal dengan tingginya. Semampai, tidak gendut tidak pula kurus, berkulit kuning langsat, berhidung mancung, berambut hitam diurai sampai di bawah pundak. Kedua matanya sedikit sipit, fasih sekali berbahasa Indonesia dan banyak tahu tentang Indonesia. Bila berkomunikasi dengan kami dia menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan bila bicara dengan sopir bus otomatis menjadi Jepang banget.

Sungguh pagi ini saya lelah dan mengantuk setelah semalaman melayang-layang di udara. Andai Grace memberikan pilihan : tidur atau meneruskan perjalanan, pastilah kami semua lebih memilih istirahat dan tidur. Tetapi jadwal tour sudah diatur, mau tidak mau, suka tidak suka harus berangkat.

Pagi itu, dari Bandara Internsional Narita, kami naik bus wisata Seian Kenko menuju ke Ginza, pusat perbelanjaan elite dan termahal di Tokyo. Sepanjang perjalanan, kami melewati jalan tol, jalan pegunungan dan banyak jalan terowongan. Tidak ada orang berjalan atau bersepeda motor. Jalanan sepi seperti kota mati. Rumah-rumah penduduk yang kami lalui tertutup rapat semua karena sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tak peduli laki-laki dan perempuan. Dari Grace kami mendapat informasi bahwa hampir semua orang Jepang, baik laki-laki maupun perempuan semuanya bekerja. Jika sampai tidak bekerja, biasanya karena orangnya bodoh sehingga tidak diterima bekerja dimana-mana.

Ketika itu musim dingin sehingga padang rumput dan pepohonan (terutama bunga sakura yang kesohor itu) meranggas. Dari trotoar terlihat bangunan-bangunan kecil, ternyata itu adalah jalan menuju kereta api bawah tanah (subway). Tidak ada yang istimewa di sini sebab yang kami kunjungi adalah tempat perbelanjaan. Sejujurnya saya tidak enjoy dengan segala hal yang terkait dengan “belanja”, apalagi di komplek perbelanjaan termahal di Jepang, yang saya inginkan justru tak terbeli karena tidak memiliki cukup uang sampai kunjungan terakhir di Jepang.

Oh ya, ada satu hal yang terkesan di pusat perbelanjaan itu. Jalan-jalan double way di Ginza lebar sekali, bersih, tidak begitu ramai, tidak macet, dan tidak ada polisi lalu lintas. Semua orang menerapkan kedisiplinan tingkat tinggi ketika menyeberang jalan. Menunggu lampu merah menyala untuk menghentikan laju kendaraan, barulah menyeberang jalan, tidak ada saling serobot. Orang-orang tidak merokok di sembarang tempat kecuali di tempat yang telah ditentukan (biasanya ada tanda boleh merokok – smoking area). Jalanan bebas banjir, tidak nampak sepeda motor atau truk melintas di situ, mobilnya rata-rata bagus dan bersih mengkilat. Mobil tua dilarang dikendarai di jalan raya.

Jam makan siang tiba juga. Pada pukul 11.00-12.00 kami menikmati makan siang di Rumah Makan Hanamasa. Di sini, sekali lagi saya menemukan bentuk lain dari kedisiplinan, orang harus taat pada jadwal makan, tempat duduk, dan aturan makan harus diikuti. Misalnya, makanan yang sudah diambil harus dihabiskan. Jikalau tidak habis akan dikenakan biaya tambahan, didenda. Satu lagi, jika sudah memesan meja harus datang tepat waktu, jika lewat waktu yang telah dijanjikan tidak datang maka tempat itu diberikan kepada pengunjung berikutnya. Hanamasa termasuk rumah makan besar, bersih, higyenis.

Semua jenis makanan ditata rapi dalam lemari kaca transparan. Selain itu masing-masing meja dilengkapi tungku listrik untuk membakar ikan. Pengunjung boleh memilih bermacam ikan atau daging yang sudah diiris tipis lalu boleh makan-minum sekenyangnya, yang penting harus dihabiskan, tidak boleh ada sisa makanan di piring.

”Sayang tidak ada sambelnya ya pak” Saya nyeletuk pada teman semeja, Pak Jamudin.

“Eh.. iya Pak, serasa ada yang kurang ya” Jawabnya dengan mulut monyong mengunyah makanan.

Kami makan memakai sumpit, tidak ada sendok dan garpu. Menu siang itu : sup, kecap, lalapan, saus, merica, pasta, daging bakar dilengkapi dengan nasi yang pulen, uenak banget (enak sekali). Grace sempat memberikan penjelasan,“Beras Jepang harganya 700 yen per kg, paling enak di dunia, putih mengkilat dan wangi”

“Ah apa iya ? di Indonesia beras Bali, beras Jawa Barat juga enak” Sergah saya tak setuju.

Menu lain aku tidak kenal sehingga tidak berani mencicipi. Sekonyong-konyong saya teringat Riris, anak saya.

“Pak, beli shusi, bawa pulang ya !” Katanya menjelang keberangkatan saya ke Jepang.

”Shusi itu apa sih, Ris?”

”Shusi itu adalah makanan tradisonal Jepang, serba daging, dimakan dengan saus dan sayur segar”

Sebetulnya saat itu saya ingin mencoba shusi, sayang sekali persediaan telah habis atau sengaja tidak dihidangkan untuk kami yang dari Indonesia. Berapa harga masakan di situ kami tidaklah tahu. Kami hanya tinggal makan saja karena semua urusan selama di Jepang ditangani oleh ITC Tour.

Kenyang sudah. Kami melanjutkan perjalanan menuju Grand New Otori Hotel di Hamamatsu, Shizuoka. Perjalanan ini makan waktu 5 jam dari Ginza. Dan ternyata jalan ini telah dilewati pula saat kemarin keluar dari Bandara Narita. Grace masih tetap semangat bercerita sepanjang perjalanan tentang Jepang. Namun karena kondisi lelah, saya dan sebagian teman lain tertidur di dalam bus yang terus melaju.

Rombongan sampai di hotel pada pukul 17.30 waktu Jepang. Setelah urusan check rampung kami langsung beranjak tidur. Dua jam berselang, saya dan Pak Usman, teman sekamar dari SMK Takengon, bangun untuk makan malam. Selepas makan malam tidur lagi dikasur busa yang empuk.

Tiada lagi yang lebih nikmat malam itu kecuali perut kenyang dan bisa segera tidur pulas. Ketika keesokan paginya mentari menyibak halimun, kehidupan bergerak menapaki perjalan berikutnya.

oooOooo

Selasa, 22 Juni 2010

FUJIYAMA OLEH SUNYOTO (BAB I)

1

Gagal Ke Shizouka

Masa kecilku di Desa Dongko Kecamatan Dongko Kabupaten Trenggalek, penuh dengan kehidupan berbau pedesaan. Sekolahku di SD Negeri Dongko 1 adalah sekolah tertua dan sekolah paling top di kecamatan itu. Semua murid termasuk aku tidak berseragam, tidak bersepatu. Bila pulang sekolah, hampir semua anak-anak disana beraktivitas mencari rumput untuk hewan piaraan, mencari kayu bakar untuk masak di dapur, membantu orang tua bertani atau bercocok tanam di sepetak tanah. Ada seornag teman bernama Sugiyanto, orang tuanya berdagang di pasar Dongko. Sepulang sekolah dia membantu orang tua beres-beres barang dagangan untuk dibawa pulang dengan cara dimasukkan ke keranjang dan dipikulnya. Orang upahan untuk melaksanakan kegitan itu sebetulnya sudah ada yaitu Kang Parmin. Tetapi Sugiyanto tetap saja membantu sebagai baktinya pada orang tua, sekaligus taktik balas budi dan tentu kalau minta uang jajan akan bisa lebih mudah akan bisa lebih banyak.

Aku tinggal bersama Kakek di rumah Desa Jepun, seorang pensiunan guru dan kepala SD. Kegiatanku bila pulang sekolah mencari makanan kambing, mencari kayu bakar, tetapi kadang-kadang aku bengong tidak mengerjakan tugas itu dan main melulu. Itupun nenek tidak marah karena pada dasarnya aku sedikit dimanja oleh nenek sebagai cucu kesayangan. Bila pulang kerumah ibu yang jaraknya hanya sekitar 300 meter dari rumah nenek, pekerjaanku adalah membantu menjaga toko pracangan ibu. Keseharianku jarang sekali baca buku, jadi maklumlah kalau mimpi-mimpi yang ada waktu kecil adalah sederhana sekali. Misalnya, bisa menjadi penari Jaran Kepang seperti Kang Tarjo, menjadi Sopir Mobil Power angkutan seperti Pak Sampe, atau bisa melukis seperti Pak Wir Toklik, itu sudah top. Menurutku, Kang Tarjo adalah sosok selebritis di desaku. Kalau dia sedang main Jaran Kepang dia berperan sebagai kasatria. Dandanannya gagah, seperti kasatria yang sedang berpatroli dijaman kerajaan menunggang kuda. Dia menari bagus dan kadang lucu. Biasanya kasatria penunggang kuda ini ada empat orang. Dalam pentas Jaran Kepang biasanya berlangsung seperti ini, diawali dengan penampilan kasatriya berpatroli naik kuda, kasatriya bertemu babi hutan (celengan) kemudian kasatriya bertemu ular (barongan). Setelah lewat pertengahan penampilan, satu atau dua orang pemain kesetanan atau bahasa orang-orang Dongko ndadi, ditandai dengan terjatuh, meringkik seperti kuda dan menari tidak beraturan, minta minum air bunga mawar, makan ketela mentah, minum asap kemenyan dan tentu menakutkan. Kalau sudah begitu pemain lain biasanya Kang Tarjo dan Kang Mangun tetap bersih dan meninggalkan panggung atau arena pertunjukan. Yang ndadi baru sembuh bila pawang atau dukunnya turun tangan.

Lain lagi dengan kekagumanku terhadap Pak Sampe, sopir power angkutan desa jurusan Dongko – Trenggalek. Pak sopir ini pinter dibidang teknik, cekatan mengendarai mobilnya, pandai memberikan pelayanan dan orangnya sabar, kalem, sopan terhadap siapa saja. Dia mampu menerapkan pelayanan prima. Dia adalah sosok yang selalu

ditunggu-tunggu para pengguna jasa angkutan. Waktu itu di Dongko ada mobil satu-satunya yaitu mobil angkutan umum milik Koperasi ”SEHATI” artinya satu hati atau satu tekat bersama. SEHATI ternyata ada kepanjangannya Semua Ekonomi Harus Ada di Tangan Indonesia. Usaha yang dijalankan Koperasi ini sepertinya pertokoan, perkreditan dan Angkutan Mobil. Anggotanya banyak sekali kebayakan guru dan Pegawai. Dimobil itu ada tulisan dari pabriknya Power Wagon kalau tidak salah made in Germany, karena itulah disebut power.

Mobil ini seperti Jip Wilis tetapi besarnya tiga kali lipatnya, atapnya trepal mulai dari kaca depan sopir sampai bak belakang. Rodanya sebesar roda truk model 3/4 , bukan truk yang panjang itu. Mobil ini boleh memuat orang, barang-barang pertanian, barang dagangan dan penuimpang orang besar kecil, tua muda, laki perempuan, anak dan bayi kaya miskin semua boleh naik asal masih muat (belum penuh) Banyaknya muatan kalau dari Dongko bawa barang Gaplek, Kedelai, hewan kambing bisa sampai dua puluh karung sekitan 2 ton plus penumpang manusia sekitar lima belas orang naik di atap kendaraan, ada yang duduk di Slebor depan pegangan lampu depan, ada yang duduk di ban serep dekat sopir. Orang laki-laki justru senang dan bangga naik ditempat yang berbahaya misa diatap mobil, di slebor depan di ban serep, sementara ibu dan anak duduk di bangku depan ada stu orang didekat sopir, dan dibawah atap yang sekiranya aman.

Selain SEHATI ada dua mobil power yang lain milik masyarakat Kecamatan Panggul, tetapi biasanya jarang mau ditumpangi orang Kecamatan Dongko yang akan menuju Ke Trenggalek karena dari Panggul sudah penuh. Perjalanan dari Dongko ke Trenggalek sekitar 1 jam mobil kecepatan antara 30-60 Km perjam. Power-power itu jalan setiap hari waktunya tidak ada jadwal tetap tergantung ada tidaknya penumpang, itupun hanya 1 kali pulang pergi. Bila orang mau bepergian harus menunggu mulai pagi kalau tidak mau terlambat. Kalau sudah terlambat SEHATI sudah berangkat tidak ada lagi harapan melanjutkan perjanan kecuali nekat jalan kaki sejauh 30 KM atau ditunda besok pesen tempat dulu ke Pak Sopir atau krenetnya.

Dongko adalah daerah pegunungan dan jalannya ketika itu adalah jalan Daendels, jalan berbatu kecil rata ditata, tetapi di jalan tertentu rusak berat oleh kelebihan muatan kendaran. Kadang rodanyaslip tidak bisa jalan karena lumpur. Kalau sudah begitu krenet kerja keras pasang katrol di kaitkan di batang kayu yang ada di tepi jalan.

Sewaktu kecil aku sering diajak potong rambut ke rumah Pak Wir Toklik oleh mbah kakung. Di rumahnya yang kecil dan sederhana itu, kadang terlihat Pak Wir sedang melukis gambar pemandangan desa. Aku kagum dengan lukisannya yang menurut saya sangat bagus waktu itu. Padahal dibandingkan dengan sekarang, lukisan-lukisan itu tidak lebih dari sekedar lukisan-lukisan tepi jalan. Profesi Pak wir multifungsi dan serba bisa, dia itu tukang cukur, dia itu tukang gambar dan dia itu pemain ketoprak top dikampung. Dia pekerja keras, pantang menyerah demi menghidupi keluarganya. Dia membuatku salut dan dia adalah idolaku.

Sekolah di desaku tahun 1960 an masih tidak maju. Bacaan yang ada sebagian besar adalah tentang tatakrama, tentang moral, tentang bakti anak kepada orang tua, tentang kebangsaan. Melanjutkan sekolah atau pergi keluar negeri - mimpipun tidak pernah. Alat-alat laboratorium disekolahku sebetulnya ada, tetapi tidak pernahdisentuh oleh guru-guru atau siswa sekalipun. Takut rusak atau tidak bisa mengoperasikan, tetapi yang jelas kami bersekolah untuk menjadi orang yang bermoral dan berguna bagi lingkungan. Ada seorang hebat di desaku saat itu, dia adalah saudara sepupu sendiri dari garis keturunan kakak nenekku, sepupuku itu bernama Mas Suntoro. Dia pernah dapat beasiswa kuliah di Rusia saat zaman pemerintahan Presiden Soekarno. Katanya sih untuk menjadi ahli bidang tenaga atom. Saudaraku itu hebat, sayang image masyarakat waktu itu bahwa pengembangan tenaga atom itu identik dengan bom pemusnah masal yang dapat meluluh lantakkan seluruh sendi kehidupan seperti di Hirosima dan Nagasaki sampai bertahun-tahun. Hasilnya, ilmu beliau tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Sekarang setelah pensiun, keahlian beliau diterapkan untuk mengembangkan usaha milik sendiri, memproduksi air minum kemasan bermerk La Toya di Jakarta.

Para orang tua se-kecamatan Dongko yang punya anak sangat mengidolakan sepupuku itu. Wajarlah orang tua mana yang tidak bangga anaknya sukses dan hebat, dapat beasiswa kuliah di luar negeri. Termasuk ibuku, kalau memberi motivasi pada Sunyoto kecil, “Nyot, kalau sekolah yang pinter, terus sekolah di luar negeri seperti Mas Sun”.

Aku hanya diam tidak merespon sebab dalam hati, aku membantah it is imposible. Kenyataan setelah aku dewasa, jadi guru sampai sekarangpun sudah menjadi kepala SMK Negeri, sudah berkeluarga, tetap saja tidak berani bermimpi ke luar negeri. Kecuali ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Aku realistis saja, gajiku hanya cukup untuk hidup sehari-hari dan biaya sekolah anak-anakku. Sebagai guru, aku hipokrit terhadap muridku yang selalu kuharapkan untuk senantiasa punya mimpi-mimpi yang spektakuler padahal mimpiku sendiri amatlah sederhana. Seperti mimpinya Ebit G Ade atau Achmad Albar bersama God Bless Band dalam salah satu lagunya ”Rumah Kita”. Sebenarnya, Kalau dipikir lagi dijaman modern, jaman global seperti sekarang ini apa yang tidak mungkin. Ternyata mimpi itu penting dan Insya Allah bisa diwujudkan, bila ada komitmen dari diri kita sendiri, selain do’a. Terbukti para TKW hanya lulusan SD, SMP bisa ke Hongkong, Malaysia, Singapuara, Arab Saudi, apa lagi kita yang berpendidikan lebih dari itu.Why not.

Terjadi pada Minggu ketiga Nopember 2007, 170 kepala SMK-RSBI ( Sekolah Menengah Kejuruan - Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional ) se Indonesia termasuk aku dan puluhan Kepala Dinas Pendidikan dari Kabupaten lain, mendapat tugas studi banding dan menyaksikan World Skills Competition Shizuoka 2007 di Jepang. Studi banding ini sekaligus menjadi tim penggembira Kontingen Indonesia. Pada momen ini siswa SMK pemenang Lomba Kompetensi Siswa SMK Tingkat Nasional 2006 ikut berlaga di Shizouka Jepang. Mereka mengadu kebolehan dalam kompetensi keahlian kejuruan bidang teknologi, pariwisata, kriya logam dan komputer tingkat dunia dengan sekolah kejuruan se-dunia. Seminggu sebelum berangkat aku sudah ijin Pak Kepala Dinas

Pendidikan Kabupaten Jember selaku atasanku. Teman-teman guru sudah pesen-pesen minta oleh-oleh, saudara-saudara banyak yang mengetahui dan mengucapkan selamat jalan. Sudah terbayang-bayang seperti apa Jepang itu, betapa bahagia dan senangnya naik pesawat mewah berkelas internasional.

Tak bisa kusembunyikan perasaan bangga dan senangnya luar biasa, yakin aku berangkat ke Jepang Eh maaf norak ya. Maklumlah belum pernah pergi keluar negeri. Di Bandara Soekarno Hatta di belakang Mac Donnald adalah tempat kami harus berkumpul jam 08.00 malam. Makan malam tersedia dengan nasi kotak, karena rencana keberangkatan diperkirakan sekitar 10.00 malam. Tour and Travel ITC telah membagikan tras dan topi berlabel World Skills Competation. Sementara petugas lain dari Biro perjalanan ini, membagikan paspor dan yang sudah dipanggil namanya terus boarding dan kami dibagi dalam tiga kelompok pemberangkatan.

Satu persatu yang sudah pegang paspor meninggalkan kami dan akhirnya tinggal 16 orang. Paspor belum jadi atau salah tulis, terpaksa tidak bisa berangkat. Salah seorang pewtugas dari Biro perjalanan mengatakan "yang tidak berangkat malam ini sebaiknya besok pulang kampung saja. Percuma berangkat sekalipun, bila hajadnya sudah selesai sampai disana" Kami tidak bisa menerima penjelasan itu, bagaimana kami harus bertanggung jawab kepada kepala dinas pendidikan, kepada kerabat, sahabat dan lain sebagainya. Direktorat harus bertanggung jawab menyelamatkan muka kami di daerah nanti ketika pulang.

Apa yang terjadi jika ternyata gatot (gagal total), ya tentu jengkel dan malu kan. Memang manusia boleh berencana tetapi Allah yang maha menentukan, Allah maha mengetahui apa yang terbaik bagi umatnya. Aku bersama 26 orang kepala SMK RSBI yang lain gagal berangkat karena alasan paspor. Aku harus berusaha keras mencari makna kegagalan ini sebagai hikmah. Dua hari harap-harap cemas menanti kepastian di hotel bandara Soekarno Hatta Jakarta. Rasanya gerah walau AC-nya begitu dingin. Kecewa, marah, malu ketika teman sekamarku Pak Marwoto dari Yogyakarta berpamitan boarding ke pesawat . Kutelepon Gusmar personil ITC Tour and Travel tidak ada jawaban. Via SMS kutumpahkan seluruh sumpah serapah, untung si Gusmar sudah berangkat ke Jepang. Sehingga dia tidak mendengar kalau aku berkata-kata kasar padanya karena HP ku belum diaktifkan untuk komunikasi luar negeri.

Sendirian di kamar hotel mewah itu dengan fikiran melayang, bagaimana besok ketika pulang kampung ditanya oleh teman-teman dan bapak kepala dinas, membuatku pusing dan keadaan itu membuatku sulit tidur. Sedikit tenang setelah Sholat Isya, kupejamkan mata sambil berdzikir mohon agar segera bisa menata hati. Khusuk sekali kubaca subhanallah, astaqfirullah, Allah, Allah, Allah berulang ulang. Biasalah orang kalau lagi sedih inginnya dekat dan curhat dengan Allah. Beda banget kalau lagi senang. Akhirnya kutertidur pula. Setengah tiga malam bangun, minum seteguk air putih botol kemasan, dingin rasanya ditenggorokan lalu meresap kerongga dada terus kerelung hati, menjadi lebih dingin dan tenang setelah solat tahajud. Aku yang sok tahu, emosional saat ini, harus sabar, harus berfikir positif, semua pasti ada hikmahnya. Allah maha mengatur, dan keputusannya tidak pernah keliru, kata-kata itu kuucap berulang kali untuk menenangkan kecewa, sampai akhirnya tertidur lagi menjelang pagi. Ketika matahari menebar sinar hangat esok hari, menerobos masuk lewat kelambu tipis jendela hotel, fikiranku sudah bening. Aku harus realistis melihat kondisi kesehatanku sendiri yang belum sembuh dari operasi tulang pangkal paha ku, sehingga masih harus memakai satu krukuntuk menyangga berat beban tubuhku yang tinggi besar. Setelah mandi, bergegas sarapan pagi di restoran hotel sendirian saja tidak ada seorangpun kutemui teman yang kemarin sore diumumkan gagal berangkat. Tidak terlalu lama kuselesaikan makan pagi, terus pergi naik taksi blue bird menuju Direktorat Dimenjur di Senayan lantai 13 gedung E Jakarta pusat. Maksud tujuan ingin bertemu pak Direktur. Semua 26 orang yang gagal berangkat ke Jepang hari itu juga ternyata sudah kumpul, mohon kejelasan dan surat pembatalan tugas untuk dipertanggung jawabkan kepada bapak Kepala Dinas Pendidikan di Kabupaten masing-masing.

Sebagai obat hati Pak Direktur berjanji akan memberangkatkan kami bulan februari 2008 dalam acara study banding and tour ke Jepang. atau ke Jerman. Waktu itu juga didatangkan orang dari kedutaan Jerman di Jakarta menjelaskan tentang peluang studi banding di Jerman. Sayang kami sudah sudah tidak fokus dalam menanggapi nya. Yang terfikir adalah segera pulang kampung. Pak Direktur menyampaikan maaf atas keteledoran panitia sehingga kami tidak jadi berangkat.

Beliau menjelaskan rumitnya birokrasi sehingga menyebabkan kami tidak berangkat. Kemudian beliau menugasi anak buahnya untuk membuatkan surat pembatalan studi banding bagi kami saat itu dan meyampaikan sekali lagi permohonan maaf tidak jadi berangkat. Surat segera kami ambil ke petugas, segera pamit pulang ke daerah masing-masing, membawa hati yang luka karena kecewa. Itulah barangkali yang terbaik, keputusan Allah melalui Pak Direktur Dikmenjur. Hari itu juga aku harus segera pulang ke Jember. Tugas sebagai tuan rumah Skill Olympic SMK tingkat Jawa Timur di SMK Negeri 1 Jember menantiku, sukses tidaknya adalah tanggung jawabku. Anggap sajalah ini suatu ujian kesabaran dariNya.

Ketika pelaksanaan Skill Olympic di SMK Negeri 1 jember, di sekolahku, saya bertemu dengan Ibu Kumudawati kepala SMK Negeri Situbondo yang berhasil berangkat ke Shizouka. Dia mengatakan ”Untung pak penjenengan tidak ikut berangkat, di sana harus lari-lari mengejar waktu untuk mengikuti upacara perhelatan World Skill di Shizouka Jepang. Seandainya penjengan ikut, sepertinya kesulitan dan disana itu kami sudah terlambat tidak bisa menyaksikan upacara pembukaan dan acara lombanya juga. Sudah terlambat. Wis tah percuma, gak main, saya saja menyesal kok”. ”Oh, ya. syukurlah kalau begitu”. Komentarku menanggapinya.

Aku yang malu bila ditanya banyak teman kepala sekolah atau guru, harus berusaha menyembunyikan rasa kecewa dengan berusaha tenang setenang telaga dan tetap menebar senyum yang mungkin hambar, meladeni semua tamu di sekolahku untuk berlomba kompetensi tingkat Jawa Timur. Kesibukan yang diperagakan oleh para warga SMK Negeri 1 Jember, petinggi Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, petinggi Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur sudah semakin sibuk, tidak boleh saya tanggapi dengan ketidaksemangatan atau ketidakseriusan. Bila perhelatan tingkat jawa timur ini gagal berarti aku akan menyesal sepanjang waktu karena telah mempermalukan banyak pihak. Hiiii ...... ngeri juga bila jadi gunjingan orang banyak. Naudzubillah amit-amit, jangan sampai deh.

Pelan-pelan hati dapat kutata, konsentrasi pada pekerjaan sehari-hari dengan semangat tinggi, didukung oleh semangat teman-teman guru dan karyawan di sekolah, menyiapkan perhelatan dengan serius dan kompak. Aku tidak boleh berfikir negatif tidak boleh cengeng, harus..... Aku harus berfikir positif....tif ......tif, harus semangat.... semangat ngat.....ngat ......ngat.

(Ikuti terus kisahnya di BAB II Jangan Takut Bermimpi)

oooOooo

Senin, 07 Juni 2010

PREAMBULE

Blog ini berisi cerita yang dibukukan oleh Pak Nyoto. Tentang pengalaman studi banding ke Jepang dengan 22 orang kepala SMK se Indonesia. Supaya menarik maka didalamnya ada pengalaman pribadi pak Nyoto dan berbagai macam motivasi untuk para guru muda dan para siswa.

Buku ini saya beri judul Fujiyama adalah buku pertama hasil karya tulis saya yang sudah diterbitkan oleh penerbit buku Selaksa, group Intrans Malang .

Terima kasih kepada yang sudah membaca dan yang belum membaca, saya akan sangat berterima kasih bila anda mencoba untuk membacanya.