Jumat, 23 Juli 2010

FUJIYAMA BAB V OLEH SUNYOTO

5. Kamaboko

Selasa pagi, 26 Pebruari 2008, kami meneruskan kunjungan ke perusahaan ikan kering. Nama perusahaan itu Kanta Maeda Fish Factory, berlokasi di Hokkaido Propinsi Shizuoka. Perusahaan ini kecil saja, berskala home Industri, mempekerjakan kurang lebih 25 orang pegawai.

Kebersihan dalam perusahaa ini begitu terjaga, produknya dijamin higienis. Tidak ada bau amis apalagi lalat beterbangan seperti banyak terjadi di perusahaan ikan kering di Gresik, Puger (Jember) atau Kraksaan (Probolinggo).

Setelah melihat-lihat proses pengolahan ikan, kami dipersilakan menuju ruang istirahat (ruang makan) karyawan. Ruangannya tidak terlalu luas namun cukup untuk menampung sekitar 25 orang. Ruangan itu biasa dimanfaatkan untuk beristirahat dan makan-minum pada pukul 10.00 setiap harinya.

Aliran pekerjaan utama dalam perusahaan itu adalah : membersihkan kotoran di dalam perut ikan, kemudian dikeringkan dalam sebuah almari oven besar. Berikutnya adalah proses pengemasan (packaging), dan terakhir didistribusikan kepada konsumen.

Proses memasaknya dengan cara dioven di dalam sebuah ruangan berukuran cukup besar, 16 meter persegi dengan tinggi 2 meter. Persis seperti kamar dilengkapi dengan mesin pengatur suhu. Sebelum dimasukkan oven ikan-ikan itu telah di masukkan dalan kotak-kotak plastik yang nantinya akan langsung dikemas. Hebatnya lagi, seluruh proses itu dilakukan tanpa menyentuh langsung ikan matang siap saji ini.

Kemasan produk ikan kering ini nampaknya telah melalui serangkaian riset pasar yang baik. Ada kesan mewah dan bergengsi, tidak seperti kebanyakan produk ikan kering yang sering kita dapati di pasar-pasar tradisional kita. Pokoknya tidak akan malu jika harus menenteng produk ini, meski di dalam pesawat sekalipun.

Rumah (gedung) itu dilengkapi pula dengan show case, sehingga ada aktifitas penjualan langsusng (direct selling) di lokasi itu. Sebagian produknya dipasarkan untuk memenuhi pesanan konsumen, biasanya dalam jumlah kecil (eceran). Perusahaan melengkapi dirinya dengan layan antar yang dilakukan oleh bagian pemasaran dan distribusi. Mereka memiliki armada pengiriman berupa sepeda motor yang masih baru dan bersih, mayoritas berwarna putih. Bicara soal kendaraan, di Jepang memang jarang ditemui kendaraan yang kotor berdebu apalagi karatan. Ini semua didorong oleh budaya malu dan kesadaran akan pentingnya kebersihan dan kesehatan.

Saat jam istirahat tiba, kami serombongan dipersilakan naik ke lantai dua. Ruang itu adalah tempat istirahat karyawan. Kami dipersilahkan untuk mencicipi ikan oven tanpa nasi plus minuman green tea panas yang diseduh sendiri oleh pemilik (bos) perusahaan. Di ruangan itu telah disiapkan meja kursi layaknya sebuah kantin. Kami menunggu ikan kering itu dipanggang hingga siap dinikmati.

Awalnya saya berfikir ikan ini pasti terasa asin seperti jenis ikan kering di Indonesia. Eh ternyata saya salah, rasanya gurih seperti ikan bakar, lezat dan tidak keras (tidak alot).

Seperti biasa setelah makan ada yang memiliki kebiasaan merokok. Bagi yang memiliki kebiasaan ini telah disediakan sebuah kamar kecil berdinding kaca transparan berukuran 2 X 3 m, tertutup rapat, sementara di bagian atasnya dilengkapi cerobong asap.

Sekitar dua jam kami bertahan di perusahaan ikan kering ini. Cukup sudah waktu berkunjung, kami pun berpamitan guna melanjutkan kunjungan ke tujuan berikutnya.

Kesan saya terhadap perusahaan ini, walau masuk dalam kategori usaha pribadi (UKM) tetapi dikelola secara profesional dan cukup modern. Faktor higienis menjadi perhatian utama, pegawainya memiliki kedisiplinan dan etos kerja tinggi. Yah, meski kecil namun berbasis teknologi, dalam arti tidak dikerjakan secara tradisional. Kecuali proses membersihkan ikan sebelum dimasak masih dikerjakan secara manual.

Kami serombongan segera mohon pamit, namun sayang kami tidak sempat berbelanja di situ, karena dalam fikiran kami, tentu akan sulit menyimpan ikan itu. Apalagi jika harus dibawa pulang ke Indonesia.

Dengan anggukan khas Jepang yang begitu sopan, mereka, para pegawai itu, membungkuk mengucapkan salam perpisahan. Dari tempat ini, rombongan berjalan kaki sejauh 500 meter menuju ke tempat parkir bus. Di tengah perjalanan kami berpapasan dengan rombongan kecil, sepertinya anak-anak sekolah dan pemuda atau mungkin kelompok peduli lingkungan, yang sedang bakti sosial membersihkan daerah kumuh.

Mereka membersihkan sampah atau barang yang tidak terpakai lainnya (bukan sampah daun atau sisa makanan) untuk diangkut ke mobil sampah. Saya perhatikan sejenak, mereka bekerja dengan riang. Padahal Jepang adalah negara besar dengan kota-kota besarnya yang bertaraf megapolitan, sehingga para pemudanya sudah bergaya hidup modern. Namun untuk urusan peduli lingkungan nampaknya tidak ada istilah megapolitan. Mereka masih tetap menunjukkan perhatian yang besar terhadap lingkungan.

Baiklah, kita tinggalkan mereka yang sedang asyik dengan aktifitas lingkungannya. Kami segera melanjutkan perjalanan. Seperti biasa, saya paling belakang masuk bus, selain memang kondisi kaki tidak bisa diajak berjalan cepat, saya benar-benar menikmati dan mengamati keadaan sekitar. Sebab jika sudah sampai di atas bus, pemandangannya monoton dan tidak bisa diperhatikan secara detail.

Sekitar pukul 11.00 kami sampai di musium bakso Kamaboko. Inilah keunikan lain dari negeri matahari terbit, bakso saja ada musiumnya. Musium ini berlantai dua. Lantai pertama untuk praktek membuat bakso secara tradisional, dilengkapi pula dengan arena pameran bermacam-macam cetakan bakso mulai dari masa awal pembuatan hingga jaman modern.

Ada juga rangkaian gambar proses pembuatan bakso pada jaman dulu. Lalu ada oven untuk menanak bakso, panggangan untuk membakar bakso, ada tempat bermain untuk anak dan juga lobby tempat istirahat sambil menyaksikan TV yang menayang proses pengolahan bakso dari tahun ke tahun. Di situ kami dapat menyaksikan sejarah pembuatan bakso mulai dari jaman kerajaan kuno di Jepang, membuat bakso dengan peralatan tradisional atau manual sampai pembuatan bakso secara modern yang serba mesin.

Kami menemukan keunikan lainnya di musium ini. Yaitu bentuk penyajian bakso ikan salmon yang bervariasi. Ada yang berbentuk ikan, bentuk bunga, bentuk buah, bentuk kotak, bentuk bulat lonjong dan lain-lain. Tentu berbeda dengan bakso di Indonesia yang mayoritas berbentuk bulat seperti bola pingpong (bola tenis).

Bakso Jepang berbahan baku ikan salmon dan bukan daging sapi, dengan warna alami coklat muda seperti warna daging. Namun pada perkembangannya dibuat juga bakso yang berwarna hijau, kuning, merah muda, coklat dan lain-lain. Kata Grace, bakso dibuat warna-warni semacam itu untuk menarik minat anak-anak agar lebih suka mengkonsumsi ikan demi kesehatan. Untuk urusan gizi dan kesehatan, kita memang harus belajar banyak kepada Jepang.

Untuk proses pembuatan bermacam-macam model bakso itu, di musium dipamerkan pula berbagai macam cetakan bakso dari tahun ke tahun. Foto lengkapnya ada di halaman berikut.

Pada kesempatan berikutnya kami dipersilakan untuk belajar membuat bakso tradisional bersama para pengunjung lain, dengan warna alami, warna ikan salmon. Pertama kami harus memakai celemek dan penutup rambut dari kertas khusus, lalu kami harus membasuh tangan dengan air es, dingin sekali. Selanjutnya di keringkan dengan kipas angin khusus.

Berikutnya kami diarahkan ke meja kerja berbahan marmer yang sudah disterilkan, satu meja untuk 10 orang. Di depan masing-masing peserta sudah disediakan 1 set peralatan berupa : 1 buah potongan kayu ukuran 4 x 10 x 1 cm, sebuah pisau stainless, 1 bilah bambu sebesar telunjuk atau ibu jari kira-kira 10 cm, dan bahan baku utama, adonan daging salmon kurang lebih seperempat kg.

Seorang instruktur mengajari kami dengan memberi keterangan dalam bahasa Jepang yang kami tidak bisa menangkap maksudnya. Untungnya sang instruktur sambil bicara juga langsung mempraktekkan cara membuat bakso, sehingga kami pun tinggal menirukan langkah-langkah seperti yang dilakukannya.

Hasilnya ? ada yang bagus ada pula jelek. Hasil pembuatan kemudian dimasukkan ke dalam ruang atau lemari perebusan. Selanjutnya kami praktek membuat bakso bakar yang bentuknya lonjong seperti jagung bakar. Pembuatannya dengan menggunakan pisau dan bambu sebagai pegangan, setelah selesai proses pembuatan, bakso dipanggang di atas panggangan listrik.

Hasil pekerjaan itu lalu kita makan sendiri. Tidak ada kekuatiran keliru (tertukar) karena pada tiap stick telah tertulis nama kita masing-masing.

Sambil menunggu bakso masak (sedang direbus sekitar 3-4 jam) kami makan siang di rumah makan Kamaboko yang tidak jauh dari musium. Menu masakan di situ serba bakso. Paket pertama bakso pembuka, kedua, ketiga, sampai penutup bakso semua, kami kenyang dengan bakso hari itu.

Di tengah rintik hujan sepanjang trotoar menuju rumah makan itu, bunga sakura, si bunga khas Jepang, nampak mulai berbintil-bintil di ujung daunnya. Menurut keterangan, kira-kira tiga minggu atau sebulan lagi akan mulai berbunga.

Pada saat itu pasti wajah kota semakin cantik memesona. Sampai hari itu saya sudah merasakan sinar matahari yang tidak terasa terik, merasakan rintik hujan, merasakan dinginnya angin salju walau bukan hujan salju. Namun terasa ada yang kurang, bunga sakura belum mekar.

Selepas makan siang kami kembali lagi ke Kamaboko untuk mengambil hasil kerja praktek pembuatan bakso tradisional. Namun ternyata belum masak juga. Untuk mengisi waktu Grace mengajak kami ke musium elektronik Toshiba, yang lokasinya tidak jauh dari Kamaboko.

Musium ini milik perusahaan Toshiba yang awalnya hanya membuat radio, mesin cuci, serta bola lampu pada tahun 1886. Sekarang mereka telah mampu membuat sejumlah produk elektronik modern untuk berbagai keperluan manusia.

Di Jepang memang banyak sekali musium yang dibangun oleh perusahaan untuk keperluan ilmu pengetahuan dan jejak sejarah perkembangan perusahaan mulai awal usaha sampai masa gemilangnya.

Saya menjadi teringat kata-kata Bung Karno, Presiden pertama Indonesia, ”JAS MERAH” atau jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ya, seperti itulah makna kata-kata itu, persis seperti yang dilakukan oleh perusahaan Jepang.

Hampir semua perusahaan memiliki musium, demi menelusuri jejak sejarah. Sebab sejarah mempunyai tiga dimensi, yaitu untuk melihat masa lalu, masa kini dan masa depan.

Dengan musium kita dapat ditelusuri jejak sejarah. Di Indonesia beberapa sekolah yang umurnya sudah mencapai puluhan tahun, saya pikir baik juga dibuatkan musium. Selain untuk tujuan studi banding juga bisa sebagai tujuan wisata pendidikan.

Sepulang dari musium elektronik Toshiba kami kembali lagi ke Kamaboko untuk mengambil bakso buatan kami tadi pagi. Bakso yang kami buat sudah matang bahkan telah dikemas dalam kotak, seperti kotak kue ulang tahun anak-anak di Indonesia. Sengaja saya bawa pulang ke Indonesia untuk oleh-oleh atau kenang-kenangan bahwa di Jepang saya pernah mencoba membuat bakso yang berbeda dengan bakso di Indonesia.

Beberapa hari lagi kami harus pulang ke Indonesia, saya ingin menunjukkan karya ini kepada anak dan istri di rumah. Ah, jadi kangen rumah, namun saya harus bertahan hingga rampung.

Pukul 18.00 Kami meninggalkan Kamaboko lalu check in di hotel ” Crown Plaza” Metropolitan Tokyo. Hotel ini cukup mewah, hampir sama seperti hotel berbintang di Jakarta atau Surabaya.

Sebetulnya kaki sudah pegel banget (capek sekali) ingin segera istirahat, tidur, Tetapi perut keroncongan minta diisi, dan pastinya kalau tidak dituruti bisa mengganggu acara istirahat.

oooOooo

FUJIYAMA BAB IV OLEH SUNYOTO

4. Musium Batu Onik dan Danau Kawaguchi


Kunjungan berikutnya adalah ke musium batu perhiasan. Tetapi sebelumnya saya ingin memaparkan sedikit tentang kehidupan beragama dan berbudaya masyarakat Jepang. Saya mengutip (lagi) dari situs Wikipedia, di sana dituliskan sebagai berikut : Kebanyakan rakyat Jepang mengambil sikap tidak peduli terhadap agama dan melihat agama sebagai budaya dan tradisi. Bila ditanya mengenai agama, mereka akan mengatakan bahwa mereka beragama Budha hanya karena nenek-moyang mereka menganut salah satu sekte agama Budha.


Shinto, suatu agama yang berasal dari Jepang sudah hampir luput dari perhatian dan hanya diketahui oleh beberapa cendekiawan saja. Kebanyakan ajaran Budha dan Shinto hanya dipraktikkan di dalam budaya seperti upacara adat dan perkawinan. Sejumlah minoritas menganut agama Kristen, Shamanisme dan agama-agama baru seperti Soka Gakkai. Sebagian agama baru ini berkait erat dengan agama Budha.


Istri saya sempat mempertanyakan soal agama dan budaya ini, apakah di sana ada masjid atau pernah dengar adzan, dan apakah saya sholat atau tidak.

Selama disana saya tidak pernah melihat masjid dan tidak pernah pula mendengar bunyi azhan. Tetapi kalau masalah sholat, itu kan kewajiban, jadi ya tetap sholat lah, malah kadang-kadang sholat di bus ketika dalam perjalanan sehingga harus tayamum saat bersuci. Isya dan subuh biasanya saya sudah berada di hotel, sehingga saya bisa wudhu dan sholat dengan normal.

Budaya Jepang mencakup interaksi antara budaya asli Jomon yang kokoh dengan pengaruh dari luar yang menyusul. Mula-mula China dan Korea banyak membawa pengaruh, bermula dari perkembangan budaya Yayoi pada sekitar 300 tahun sebelum Masehi. Gabungan tradisi budaya Yunani dan India, mempengaruhi seni dan keagamaan Jepang sejak abad ke-6 Masehi, dilengkapi dengan pengenalan agama Budha sekte Mahayana. Sejak abad ke-16, pengaruh Eropa menjadi menonjol, disusul dengan pengaruh Amerika Serikat yang mendominasi Jepang setelah berakhirnyaPerang Dunia II.


Jepang turut mengembangkan budaya yang orisinil dan unik, dalam seni (ikebana, origami, ukiyo-e), kerajinan tangan (pahatan, tembikar, persembahan (boneka bunraku, tarian tradisional, kabuki, noh, rakugo), dan tradisi (permainan Jepang, onsen, sento, upacara minum teh, taman Jepang), serta makanan Jepang. Kini, Jepang merupakan salah satu negara pengekspor budaya pop yang terbesar. Anime, manga, mode, film, kesusasteraan, permainan video, dan musik Jepang menerima sambutan hangat di seluruh dunia, terutama di negara-negara Asia yang lain.

Ayo dong Indonesia ! jangan sampai kalah. Budaya batik, tari, musik, dan yang sekarang sedang dikembangkan adalah animasi, furnitur, kerajinan kayu perak, kulit itu adalah daya tarik Indonesia di dunia. Menurut berita di koran, karya animator Indonesia diminati oleh pengusaha animasi Jepang. Dukungan dari pemerintah Indonesia juga sangat diharapkan untuk melindunginya dari klaim negara lain terhadap produk dan budaya asli Indonesia.


Pemuda Jepang gemar menciptakan trend baru dan gaya mereka mempengaruhi mode dan trend seluruh dunia. Pasaran muda-mudi yang amat cemerlang membawa ujian kepada barang-barang pengguna elektronik yang baru, di mana gaya dan fungsinya ditentukan oleh pengguna Jepang, sebelum dipertimbangkan untuk diedarkan ke seluruh dunia.

Baru-baru ini Jepang mulai mengekspor satu lagi komoditas budaya yang bernilai: olahragawan. Popularitas pemain bisbol Jepang di Amerika Serikat meningkatkan kesadaran Barat terhadap segala hal tentang Jepang. Orang Jepang biasanya gemar memakan makanan tradisi mereka. Sebagian besar acara TV pada waktu petang dikhususkan pada penemuan dan hasil olahan makanan tradisional yang bermutu


Makanan Jepang yang mencetak nama di seluruh dunia adalah shusi. Makanan ini biasanya dibuat dari pelbagai jenis ikan mentah yang digabungkan dengan nasi dan wasabi. Sushi memiliki banyak penggemar di seluruh dunia. Makanan Jepang bertumpu pada peralihan musim, dengan menghidangkan mie dingin dan sashimi pada musim panas, sedangkan ramen panas dan shabu-shabu pada musim dingin.


Baiklah kita sekarang menuju ke musium batu berharga. Harganya benar-benar mahal untuk ukuran kantong kita. Tetapi bagi ibu-ibu, ada juga yang belanja di sana. Ada yang murah berupa batu berukuran kecil warna warni. Segenggam harganya 1.000 yen atau Rp 90.000. Hampir semua teman minta bantuan saya saat membeli batuan ini, sebab ukuran tangan saya memang besar. Jadilah saya mengambil segenggam demi segenggam untuk semua yang berniat membeli batuan unik itu.

Batu-batu warna itu akan terasa dingin di kulit bila disentuh, itu pertanda asli. Saya sendiri hanya membeli hiasan dinding berupa lukisan kecil dari batu berharga itu seharga 1.200 yen dan gelang batu untuk memperlancar peradaran darah. Mahal juga harganya. Di Indonesia barang semacam ini sudah banyak beredar dengan harga yang cukup mahal pula.


Kawasan musium ini diperindah dengan taman yang terbuat dari serba batu, diatur demikian apik, artistik dengan berbagai macam model dan warna. Batu permata besar digantungkan sebagai hiasan sekaligus sebagai alat promosi. Bagi ibu-ibu tempat ini rupanya begitu menarik karena memang di situ banyak dijual perhiasan untuk para wanita, tetapi bagi saya dan kaum Adam lainnya justru yang menarik adalah taman yang dibuat dari batu berbagai warna dan berbagai ukuran. Berbagai benda seni yang terbuat dari batu harganya sangat mahal bila di kurskan ke mata uang rupiah.


Pelancongan hari itu pun diakhiri dengan menginap di Hotel Sansuiso di tepian danau Kawaguchi, Fujikawa. Hotel ini kecil saja, berlantai tiga dan memiliki kurang lebih 50 kamar. Masih serba tradisional dan kelihatannya adalah hotel keluarga. Pegawainya rata-rata sudah berumur, itupun jumlahnya tak banyak.


Setelah check in kami berjalan kaki ke kamar masing-masing di lantai dua tanpa fasilitas eskalator, maklum masih serba tradisional. Halaman depan hotel tidak begitu luas. Sementara tepian danau Kawaguchi cukup dijangkau dengan berjalan kaki menyeberangi jalan raya saja.

Di kiri kanan hotel terdapat beberapa rumah biasa seperti layaknya perumnas di Jember. Beberapa ratus meter dari hotel ini terdapat satu hotel kecil pula, atau motel dengan ukuran sedikit lebih besar.


Yang unik disini adalah ketika makan malam kami serombongan harus memakai Yukata layaknya para Samurai dalam film-film tradisional Jepang. Yukata ini di Indonesia disebut baju Kimono dan dipakai sebagai baju tidur.

Memakai baju luar warna gelap seperti jas tetapi kancingnya bertali. Dinding kamar Hotelnya, pintunya, lantainya tempat tidur tikarnya, kasur dan selimut tebalnya tradisonal Jepang banget. Kami berdua dengan Pak Usman Kepala SMKN Takengon Aceh berada dalam satu kamar, tidurnya di lantai beralas tikar sasami, dan kasur spon tipis, bantal spon juga tipis, selimutnya tebal dan kita bisa masuk seperti kepompong di selimut itu.


Selesai makan malam, di hotel itu ada fasilitas mandi bersama, air belerang hangat. Kabarnya bagus untuk berendam guna menghilangkan lelah. Tetapi semua harus telanjang bulat tanpa busana, untuk bisa masuk dan mandi di kolam itu. Saya mencoba mengintip kolam itu masih ada beberapa orang yang sednag berendam.

Saya tidak jadi masuk bak karena kelihatannya licin, kebetulan saya sudah mandi di kamar yang disitu juga ada air hangatnya. Pak Usman teman sekamar saya juga tidak jadi mandi, malu katanya. Jadi kami hanya ngobrol sambil tiduran hingga jauh malam. Kami harusnya segera tertidur pulas karena perjalanan seharian membuat badan terasa penat, namun udara dingin membuat kami sulit tidur. Walau sudah mengenakan pakaian berlapis dan berselimut tebal seperti kepompong, pemanas ruangan sudah diatur suhunya 14-18 derajat namun tetap saja dingin dan sulit tidur. Bangun pagi masih penat dan mengantuk, badan tidak dalam kondisi fit.

Saya dan teman-teman keluar kamar melihat panorama pagi danau Kawaguchi dari pelataran hotel sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Pagi itu masih sepi, dingin pula. Panorama disini menurutku biasa saja, masih lebih asyik di telaga Sarangan, Madiun.

Pagi-pagi sudah disambut gemuruh suara debur ombak telaga diterjang speed boad yang disewa pelancong yang kebanyakan wisatawan dalam negeri. Suara ketipak sepatu kuda sewaan yang hilir mudik di jalanan depan hotel di Sarangan, suara khas para pedagang keliling menawarkan oleh-oleh jajan khas Sarangan dan berbagai makanan buah-buahan atau kerajinan dan mainan.


Memang, harus diakui untuk urusan mengelola wisata daerah di Indonesia, baru Bali saja jagonya, makanya tidak heran bila turis manca negara terkadang lebih mengenal Bali daripada Indonesia itu sendiri.

Kawaguchi adalah salah satu tujuan wisata yang dikenal disana karena berdekatan dengan gunung Fujiyama yang begitu indah pesona alamnya. Para guide sudah mengarahkan dan mengatur waktunya agar para wisatawan tidak bisa tidak harus menginap di sini. Luas danau ini sepertinya hampir sama dengan danau Sarangan. Danau Kawaguchi sendiri tidak difungsikan sebagai obyek wisata air seperti telaga Sarangan sehingga sepi-sepi saja. Tetapi bila pagi hari, matahari terbit menyembul lewat celah bukit dan sinarnya membias warna kemilau di danau itu, indah dan menarik untuk dinikmati.

Agak jauh dari pandangan, di tengah danau itu sebuah jembatan nampak menghubungkan jalan raya dari satu sisi ke sisi lainnya yang dilewati kendaraan umum. Seandainya kita berjalan kaki mengelilinginya memerlukan waktu kurang lebih 30-40 menit.

oooOooo

Jumat, 09 Juli 2010

FUJIYAMA OLEH SUNYOTO (BAB III)

3. FUJIYAMA BERSELIMUT

Senin, 25 Pebruari 2008 setelah sholat subuh, saya sedikit panik. Uang yang tersimpan di dalam amplop tidak saya temukan, jangan-jangan tertinggal di toko buah Hanamasa kemarin, sewaktu belanja minuman. Segera saja semua tas saya bongkar isinya, satu demi satu saya membuka amplop dan juga map sekali lagi, juga pakaian-pakaian yang tertata di dalamnya, lagi, lagi dan lagi.
Lalu plong (lega) rasanya, ternyata uang itu berada di tas hitam yang kemarin saya bawa. Untung berhasil ditemukan, kalau tidak bisa mbambung (orang gelandangan tidak punya rumah tempat tinggal tetap, tidak punya pekerjaan tetap, tidak punya uang). Dengan suka cita saya segera masuk ke kamar mandi, mengguyur badan ini dengan air hingga puas.

Kemudian kami makan pagi di restoran hotel. Menu pagi itu : bubur jagung, sup asparagus, kentang goreng. Supaya lebih kenyang ditambah dengan roti, buah dan orange jus. Selepas makan pagi kami harus berkemas dan check out dari Grand New Hotel di Hamamatsu guna meneruskan perjalanan.
Bus Seian Kanko membawa kami serombongan ke Godo Solution, perusahaan yang bergerak dibidang IT perancangan permesinan. Produknya antara lain dipesan oleh Yamaha, Honda dan Nissan. Di sini pegawai bekerja membuat design dalam ruangan kecil yang hanya berisi 6 orang. Perusahaan ini menerapkan efisiensi dalam hal tenaga kerja. Etos kerja dan disiplin karyawan di situ sangat tinggi. Andai di Indonesia terutama di lembaga-lembaga pendidikan dan kantor Pemerintah menerapkan cara kerja seperti ini, tentu kemakmuran dan kemajuan lebih mudah tercapai.
Untuk perusahaan ini, SMK Negeri 1 Jember memberikan souvenir berupa kerajinan sebuah patung sepeda kayu kecil. Perwakilan dari perusahaan itu kelihatan sangat senang menerima souvenir dari kami. Dari sekolah-sekolah lain juga memberi souvenir pula, ada yang berbentuk batik, wayang kulit, lukisan dari alumunium dan lain sebagainya.

Selama perjalanan dari hotel sampai ke Godo, Grace bercerita bahwa tarif tol di Jepang sangat mahal, sehingga tarif (ongkos) taksi dan kendaraan pribadi juga mahal. Kalau dari bandara menuju kota yang murah adalah naik bis umum, ”Di sini tidak ada angkot lho” selorohnya.
Penduduk Jepang diharuskan ikut asuransi kesehatan. Kartunya berlaku sebagai ID card sebagai pengganti KTP. Pedagang, petani, pegawai swasta juga membayar uang dana pensiun sampai umur 60 tahun. Rata-rata mereka harus menyisihkan 13.000 yen per bulan. Ketika umur 61 tahun mereka berhak mendapat uang pensiun kurang lebih 30.000 yen setiap bulan.

Pendapatan penduduk, misalnya saja sopir bus yang kami tumpangi itu, 6 juta yen per tahun, pembantu rumah tangga 12.000 yen per hari dengan jam kerja 7 pagi -11 malam. Pokoknya gaji orang Jepang rata-rata 7 kali lipat dibanding dengan di Indonesia. Masih menurut Grace, makanan dan lingkungan di Jepang sangat dijaga kesehatanya, tidak ada lalat beterbangan di restoran atau di tempat sampah, di tepi jalan sekalipun. Sampah dikumpulkan di tempat tertentu, dibungkus tas atau karung plastik secara rapi yang pada gilirannya di angkut truk sampah menuju ke tempat pembakaran sampah berupa gedung tertutup dan kelihatan bersih.
Pemerintah Jepang tidak mau penduduknya banyak yang jatuh sakit, sehingga kebersihan dan kesehatan mendapat perhatian serius. Jalan-jalan di sana tidak pernah banjir dan selalu bersih.

Mengutip situs Wikipedia, dinyatakan bahwa kepadatan penduduk yang tinggi dan usia mayoritas penduduk yang semakin tua mengakibatkan penurunan jumlah penduduk. Hal ini mengakibatkan peningkatan biaya pemeliharaan kesehatan yang harus ditanggung pemerintah semakin berat. Di masa depan, industri robot diperkirakan menjadi kekuatan ekonomi yang amat penting. Sejumlah 410.000 dari 720.000 buah robot yang beroperasi di seluruh dunia berada di Jepang.
Oke lah sekarang kita kembali lagi pada kisah perjalanan selanjutnya. Pukul 01.20 kami sampai di Rumah Makan Sakura, Fujikawa. Waktu itu suhu udara -2°C sampai -3°C, dingin sekali. Kalau di Jember dingin-dingin gini enak sekali makan masakan yang pedas biar badan terasa hangat. Tetapi di Jepang jangan harap ada makanan seperti itu. Menu makan hari itu khas makanan Jepang yang belum familiar dengan lidah kami. Tak apa lah yang penting kenyang, stamina bugar untuk meneruskan perjalanan ke Gunung Fuji atau Fujiyama yang terkenal itu. Mendaki dengn bus namun tidak sampai ke puncak, hanya sampai di level yang diperbolehkan. Waktu itu kami diperbolehkan sampai pada level 5 dari semua level (kalau tidak salah ada 9 level), jadi kami tidak capek sama sekali.

Gunung Fuji adalah gunung tertinggi di Jepang, terletak di perbatasan Shizuoka dan Yamanasi, di sebelah barat Tokyo. Gunung Fuji berdekatan dengan pesisir pasifik di pusat Honshu. Fuji dikelilingi oleh tiga kota yaitu Gotemba (timur), Fuji Yoshida (utara) dan Fujinomiya (barat daya). Gunung setinggi 3776 m ini dikelilingi juga oleh lima danau yaitu Kawaguchi, Yamanaka, Sai, Motosu, dan Shoji. Fujiyama diperkirakan terbentuk sekitar 10.000 tahun yang lalu. Sebuah gunung berapi yang kini tak lagi aktif, terakhir meletus pada tahun 1707.
Jepang merupakan negara yang kaya legenda dan cerita rakyat. Dengan wilayah yang lebih dari 60%-nya merupakan daerah pegunungan, membuat banyak legenda dan cerita rakyat yang berlatar belakang daerah pegunungan. Gunung Fuji yang terletak di pulau Honshu merupakan gunung yang paling terkenal di Jepang, dan salah satu gunung yang ternama di dunia. Keberadaan gunung Fuji erat dengan masyarakat Jepang, terkait dengan tradisi maupun kepercayaan mereka.

Gunung Fuji dianggap tempat yang suci sampai masa restorasi Meiji, dimana sebagian kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal tersebut dilarang. Namun gunung Fuji tidak lantas kehilangan popularitasnya. Di masa sekarang gunung Fuji bukan hanya menjadi ciri khas Negara Jepang, namun menjadi salah satu obyek wisata yang diunggulkan. Masyarakat Jepang maupun turis asing berbondong-bondong melakukan perjalanan ke Fujiyama. Konon pada jaman dahulu, wanita sempat dilarang untuk melakukan perjalanan atau mendaki gunung Fuji.
Asal usul gunung Fuji tertuang dalam salah satu legenda rakyat yang mengisahkan terciptanya gunung tersebut dalam satu malam. Dikisahkan, adalah Visu, seorang penebang kayu yang hidup di sebuah pondok bersama anak istrinya yang tiba-tiba terbangun pada suatu malam karena guncangan suara keras dari dalam tanah.
Visu segera membawa anak dan istrinya keluar karena mengira terjadi gempa bumi. Namun saat ia melangkahkan kaki keluar dari pondoknya, daerah sekitar tempat tinggalnya yang pada awalnya merupakan daratan luas berubah menjadi sebuah gunung. Visu begitu kagum sehingga menamai gunung itu “Fujiyama” (sumber www.mapala-upn-yk.org)

”Hari ini kita sedang mujur karena Fujiyama begitu kelihatan detailnya meski dari kejauhan” Kata Grace
”Semakin dekat semakin mempesona” tambahnya pula.
Bus yang kami tumpangi melaju semakin dekat dengan kaki Fujiyama. Mata seluruh penumpang bus Seian Kianko tersihir oleh keindahan gunung Fuji dan tak mau lepas memandangnya. Jalan beraspal halus mulus mulai menanjak dan makin menanjak, di sisi kiri dan kanan jalan mulai kelihatan gumpalan salju memutih indah, lalu sampailah kami ke pintu masuk wisata Fujiyama. Subhanallah walhamdulillah hamparan salju putih bertebar diseluruh permukaan hutan di sela-sela pepohonan yang sebagian besar daunnya meranggas. Sungguh, sebuah pengalaman baru yang sangat berkesan bagi saya. Salju yang menempel di dedaunan atau ranting pepohonan terlihat sangat indah seperti hiasan pada pohon Natal di gereja-gereja. Sayang di hutan itu tidak kelihatan seekor binatangpun, mungkin mereka menyingkir menghindari dinginnya salju. Kalau malam tiba jalanan beraspal yang halus mulus menuju puncak Fujiyama itu tertutup salju tebal. Kemudian menjelang pagi dibersihkan oleh petugas menggunakan kendaraan pemecah dan pembersih salju yang selalu siap di situ.

Oleh karenanya, pelancong tidak boleh pulang terlambat, ketika salju mulai menutup jalan beraspal itu, pastilah tidak bisa pulang karena licin, padahal di atas tidak ada penginapan. Infonya di level 7 atau sembilan di atas sana ada bangunan tempat pemujaan, sayang kami tidak bisa sampai ke sana.
Akhirnya bus kami berhenti sampai level 5 dari keseluruhan 9 level. Kami tidak diperkenankan menuju level lebih tinggi lagi saat itu, karena salju sangat tebal, berbahaya bagi pelancong yang mendaki naik kendaraan (bus). Saat itu pintu level 5 ditutup. Bersama kami ada pula pelancong lain yang juga menggunakan kendaraan bus, tidak ada yang menggunakan kendaraan pribadi, tidak ada pula yang berjalan kaki.
Level 5 berketinggian 2020 m diatas permukaan laut. Bandingkan saja dengan gedung bertingkat, jika satu lantai saja tingginya 3 meter kalau tingkat 10 hanya 30 m. Berarti berapa kali lipat gedung bertingkat, yang sudah kami daki di gunung Fuji.
Di sini kami berfoto-foto, bermain salju dan saya mencoba menjilat salju seperti apa rasanya, ternyata segar seperti air tawar. Salju bila dipegang sekilas tidak terasa dingin, tetapi setelah mulai mencair berubah menjadi sangat dingin. Pak Edy Sartono dari Gresik bahkan membuka baju serta kaos singletnya, lalu tidur telentang di hamparan salju beberapa saat untuk difoto sebagai kenangan, padahal dinginnya tak alang kepalang.

Ibu Supartini dari Malang dan ibu Sri Supartini dari Surakarta ingin foto seperti dibawah guyuran hujan salju. Gampang, saya meraih sebongkah salju lalu diremas halus dan saya hamburkan dari jarak tertentu, di tempat yang agak tinggi ke tubuhnya sambil di ambil gambarnya oleh teman lain. Wow...! hasilnya spektakuler seperti benar-benar berfoto ketika hujan salju.
Grace meilih berdiam di Bus karena tidak tahan dingin, dia terlihat puas mengantar kami karena jelas terlihat kami pun senang. Setelah cukup puas kami segera masuk bus, rasanya lebih dingin daripada saat bermain di hamparan salju tadi. Untung bus itu dilenhgkapi pengatur suhu panas-dingin.
Puncak keindahan Fujiyama adalah saat musim salju tertimpa sinar mentari, kelihatan indah, putih bersih seperti kapas dihamparkan ke seluruh puncak bukit. Keindahan khas lain di sana adalah ketika musim bunga sakura. Saya kesana saat musim salju sehingga bunga sakura masih belum mekar. Subhanallah alhamdulillah, telah Kau beri kesempatan untuk menyaksikan kebesaran-Mu di sini.
Saya belum pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri sebelumnya, tak bisa terlukiskan keindahan gunung bersalju itu. Saya membayangkan bahwa di situ tiba-tiba ada kereta sinterklas yang ditarik beberapa ekor rusa, seperti dalam lukisan-lukisan natal. Itulah yang menyebabkan panorama ini menjadi lebih menarik dan melekat kuat dalam benak saya.

Sayang waktu pulang segera tiba, bus yang kami tumpangi segera meluncur turun gunung. Di dalam bus, saya masih membayangkan sinterklas dengan keretanya yang ditarik rusa bertanduk. Membayangkan kereta itu berisi sejumlah hadiah untuk anak-anak yang berbakti. Juga dilengkapi dengan kantung untuk membawa anak yang durhaka pada orang tua untuk dibawa ke sorga atau ke neraka jahanam.
Tiba-tiba saja kereta muncul dari puncak Fujiyama yang bersalju tebal melintas. Saya sempat menyaksikan malaikat bernama sinterklas berseragam merah dengan topi kuncirnya itu datang dari swarga loka. Itulah indahnya ....
Tidak salah bila dulu penyanyi Titik Sandhora yang lama tinggal di negeri sakura menyanyikan lagu Fujiyama dalam syair bahasa Indonesia. Intinya memuji keindahan gunung Fuji yang dilihat dari kejauhan, puncaknya berkilauan salju putih tertimpa sinar matahari.

Kunjungan ke Fujiyama itulah yang paling berkesan. Seumur-umur baru kali ini saya bisa berada di gunung bersalju dan bisa merasakan dinginnya secara langsung. Bisa kupegang dinginnya, bisa kuremas dan kuhamburkan seperti kapas, bila padat dapat kurasakan keras dan licinnya bongkah batu es saat kaki menjejak. Bila jatuh di atas tumpukan salju yang tidak padat tidak akan terasa sakit, tetapi jangan coba-coba menjatuhkan diri di salju yang padat, kerasnya seperti batu.
Benar-benar bangga dan bersyukur pada akhirnya bisa menyaksikan semua itu. Puas sudah rasa hati dalam kunjungan hari ini. Sebagai ungkapan perasaan, saya sempat menulis sebait puisi saat perjalanan pulang dari Fujiyama sebagai berikut,

FUJI YAMA

Alhamdulillah
Atas ijin-Mu kusaksikan dengan mataku

Hamparan putih salju
Bertebar di kiri kanan jalan ku.
dingin raga kepulkan asap lewat mulutku
Membuka keyakinan akan kebesaran-Mu

Subhanallah
Kau perkenankan aku hadir di situ
Di puncak Fujiyama aku terharu
betapa kecilnya aku
kotor dan lemah dihadap-Mu

Pintaku jangan halangiku
tuk mendekat-Mu.

Jepang Peb 2008

(SIMAK TERUS DI BAB IV BERIKUT)

oooOooo

FUJIYAMA OLEH SUNYOTO (BAB II)

2. Jangan Takut Bermimpi.

Sejatinya saya tak pernah berani memimpikan pergi ke luar negeri. Realistis saja, saya ini siapa ? Saya tak punya cukup uang ! jika pun ada, jumlah itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup kami sekeluarga plus biaya sekolah anak-anak. Tetapi ternyata saya salah, “Banyak jalan menuju Roma” begitu bunyi pepatah yang terkenal itu. Orang harus punya mimpi (cita-cita) yang tinggi. Dengan harapan suatu saat mimpi itu menjadi kenyataan.

Mimpi atau cita-cita itu penting guna merangsang otak agar berfikir tentang mimpi itu tadi. Bila mimpi itu hanya difikirkan saja, maka akan tetap menjadi khayalan sehingga kita hidup dalam alam khayal. Agar mimpi itu menjadi nyata kita harus melakukan action atau tindakan dan upaya yang keras dalam merintis terwujudnya mimpi itu.

Ada seorang murid saya yang menyukai pernak pernik Jepang, kesukaannya itu pada akhirnya mendorong si anak mengabadikan khayalannya tentang Jepang dalam bentuk lukisan ala Jepang. Mulai dari bunga sakura, gadis berkimono, pendekar samurai dan lain-lain, semua serba Jepang.

Demikian itu adalah salah satu bentuk mimpi yang dinyatakan dalam aktifitas nyata, kalau mau siswa ini bisa saja suatu saat datang ke Jepang melalui program beasiswa, diawali dengan berusaha keras belajar bahasa Jepang, lalu seni dan budaya Jepang, kemampuan akademis yang mumpuni dan mencoba keberuntungan ikut tes di kedutaan Jepang.

Contoh lain, saya sering

mengelilingi dunia kemudian berusaha keras dengan berbagai upaya, misalnya dengan bersepeda angin, bersepeda motor atau naik kapal sendirian. Wow, benar-benar spektakuler !

Setelah gagal berangkat ke Jepang, saya mulai memimpikan keliling dunia selagi bisa. Sesekali melihat kehebatan negara lain itu perlu, dengan demikian kita dapat memetik berbagai hikmah dari pengalaman itu dan bisa pula mencecap hal-hal positif. Syukur-syukur bisa diterapkan untuk kemajuan negeri ini.

Jadi, bukan sekedar latah meniru langkah Presiden, para pejabat atau anggota DPR yang sedang demam studi banding ke luar negeri. Karena saya adalah seorang pegawai negeri sipil maka cara yang saya tempuh adalah ketika ada kesempatan dinas, agar tidak mengganggu tugas saya sehari-hari.

Sekitar Februari 2008, datang sebuah berita menggembirakan, saya akan diberangkatkan ke Jepang. Sebetulnya masih ada sedikit keraguan (trauma) karena kegagalan berangkat ke Jepang tempo hari. Untuk meyakinkan kebenaran berita itu saya harus menghubungi banyak pihak termasuk rekan sejawat sesama kepala sekolah, yang dulu gagal berangkat. Kali ini saya tidak berani memberi tahu siapapun, sebelum yakin dengan keberangkatan itu sendiri, takut mendapat malu lagi.

Ya, memang benar, adalah langka seorang guru bisa pergi ke luar negeri tanpa dibiayai negara. Jadi, satu-satunya harapan untuk bisa pergi ke luarnegeri adalah untuk urusan dinas yang dibiayai negara.

Banyak hal positif bisa dipetik dari pengalaman pergi ke luar negeri. Insya Allah pengalaman itu dapat memberikan motivasi dan inspirasi untuk pengembangan pendidikan di dalam negeri. Untuk urusan ini, saya salut kepada Pemkab. Jember yang berani mengagendakan studi edukasi ke luar negeri bagi kepala sekolah, guru, siswa dan juga staf tata usaha yang berprestasi, secara bergilir. Saya yakin, semakin banyak personil pendidikan yang diberikan kesempatan ke luar negeri, semakin berdampak positif bagi perkembangan dunia pendidikan itu sendiri.

Saya mulai mengikuti proses meraih mimpi itu. Proses dan usaha keras adalah bagian yang harus dilakukan agar mimpi menjadi kenyataan. Bulan Desember 2007 saya dipanggil Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jakarta, untuk sekali lagi meakukan pendaftaran dengan mengisi berbagai form isian seperti yang pernah saya lakukan September 2007 silam.

Mulai data pribadi hingga data sekolah saya lengkapi, ini penting karena saya masuk kategori tugas dinas atas nama sekolah sebagai Kepala SMK Negeri 1 Jember. Tak lupa saya mengumpulkan pas foto untuk kelengkapan pengurusan paspor dan visa.

Pengisian form ini serasa mengorek luka lama, rasa kecewa akibat gagal berangkat tahun lalu. Namun, semangat meraih mimpi mengalahkan perihnya luka, mimpi ini harus diperjuangkan dengan keras, maka proses ini saya lakukan sekali lagi dengan harapan semoga tidak gagal lagi. Kali ini kinerja Direktorat lebih cermat karena jumlah peserta yang diurus lebh sedikit dibanding tahun periode sebelumnya.

Ketika saya menanyakan berapa orang yang mengurus paspor dan visa, ternyata semua rekan kepala sekolah yang dulu gagal berangkat ke Jepang namanya tercantum dalam daftar itu. Setiap ada perkembangan baru kami selalu diberi kabar oleh Bu Ita, seorang staf Direktorat yang khusus bertugas menangani keberangkatan kami. Sebagai penyeimbang saya pun sering melakukan kontak balik demi datangnya sebuah kabar baik. Selain itu saya juga aktif menghubungi Pak Masrukin, Kepala SMK Negeri 1 Pogalan Trenggalek yang dulu juga gagal berangkat. Ternyata dia belum tahu tentang hal ini, segera saja dia mengurus ke Jakarta untuk mendaftarkan diri.

Awal Januari 2008 saya mendapat kabar dari Jakarta bahwa paspor dan visa sudah beres. Jadi tinggal menunggu jadwal keberangkatan yang diperkirakan sekitar bulan Pebruari. Masa-masa yang menggelisahkan pun dimulai, masa menunggu kepastian tanggal keberangkatan, serta jadi tidaknya berangkat.

Akhirnya, pada tanggal 23 Pebruari 2008 pukul 22.10 WIB, jadi juga saya terbang ke Jepang dengan menumpang JAL bernomer penerbangan 726. Saya mendapat tiket kelas ekonomi, tak mengapa yang penting jadi berangkat ke Jepang. Ketika pesawat mulai take off, gedung-gedung bertingkat di Jakarta nampak seperti hutan kubus.

Rombongan kali ini berjumlah 22 orang, terdiri dari 1 orang Tour Leader ITC Tour Jakarta, Gusmar namanya. 17 orang Kepala SMK SBI dari berbagai propinsi di Indonesia termasuk saya ditambah dengan 4 orang staf Depdiknas Jakarta. Perjalanan memakan waktu 8 jam, sebagian besar waktu di pesawat saya manfaatkan untuk tidur karena payah. Dan lagi suasana di luar gelap gulita sehingga percuma saja, tidak ada pemandangan yang bisa disaksikan.

Saya hanya dapat melihat sorot lampu di sayap pesawat. Sesekali saya terbangun lantas menyaksikan layar TV kecil yang terpasang di setiap bagian belakang sandaran kursi pesawat sambil menikmati hidangan yang senantiasa disajikan oleh pramugari.

Selama 8 jam penerbangan kami mendapat jatah 2 kali makanan kecil, 1 kali makan malam yang dihidangkan gratis oleh para pramugari nan rupawan yang asli Jepang. Mereka rata-rata tinggi semampai persis seperti para pramugari Indonesia. Rata-rata bertinggi badan di atas 165 cm. Semua pramugari berkomunikasi dalam bahasa Inggris style Jepang dan Bahasa Jepang. Pilot pun dalam memberi info juga dalam bahasa Jepang dan juga Inggris.

Menu minuman boleh pilih apel juice, orange juice, water, aneka soft drink dan yang menghangatkan seperti coffee dan green tea. Menu makan boleh pilih salah satu antara ayam dan ikan laut.

Pesawat JAL ini berukuran besar. Terbagi dalam 3 kelas, yaitu : paling depan kelas eksekutif dengan kapasitas 30 kursi. Di belakangnya adalah kelas bisnis dengan jumlah seat 180 kursi. Dan paling belakang, yang saya tempati, kelas ekonomi berjumlah 180 kursi.

Tarif kelas ekonomi waktu itu USD 427 (setara dengan Rp 3.971.100,- dengan kurs Rp. 9.300 per USD), airport tax & flight insurance sebesar USD 233.50 (setara dengan Rp 2.171.550,-) untuk sekali perjalanan.

***

Sedikit mengenal negara yang akan saya kunjungi. Saya cuplik dari berbagai sumber. Jepang yang dalam bahasa Jepang disebut Nippon atau Nihon, secara harafiah dapat diartikan sebagai "asal-muasal matahari". Negara ini adalah sebuah negara di Asia Timur yang terletak di suatu rantai kepulauan benua Asia di ujung barat Samudera Pasifik. Pulau-pulau besar membentang dari utara ke selatan, pulau Hokkaido, pulau Honshu (pulau terbesar), pulau Shikoku dan pulau Kyushu. Beberapa pulau kecil berada berdekatan dengan keempat pulau ini termasuk sebuah kelompok pulau-pulau kecil yang berada di sebelah selatan di Okinawa.

Nippon atau Nihon dalam bahasa Jepang ditulis dalam huruf Kanji. Sebutan Nippon sering digunakan dalam urusan resmi, sedangkan Nihon biasanya digunakan dalam urusan tidak resmi, seperti pembicaraan atau percakapan harian. Kata Nippon dan Nihon juga berarti "negara matahari terbit". Nama ini berasal dari utusan resmi negara China, dan merujuk kepada kedudukan relatif Jepang di sebelah timur benua Asia. Sebelum itu, Jepang dikenal sebagai Yamato. Kata Jepang dalam bahasa Indonesia diturunkan dari kata Jepun, berasal dari Bahasa Kanton yang membawa sebutan Yat Pun. Sebutan resmi Jepang dalam bahasa Jepang ialah Nipponkoku atau Nihonkoku, yang berarti negara Jepang.

Industri konstruksi Jepang dibantu oleh proyek sipil yang besar. Salah satu proyek yang paling terkenal adalah Bandara Internasional Kansai yang dibangun di atas sebuah pulau buatan, proyek pembangunan bandara ini menelan dana USD 30 milyar. Ekonomi pasar bebas dan industri Jepang merupakan nomer ketiga terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan RRC dilihat dari segi paritas daya beli internasional. Ekonominya sangat efisien dan bersaing dalam area yang berhubungan dengan perdagangan internasional tetapi produktivitas lebih rendah di bidang agrikultur, distribusi, dan pelayanan. HDI (Human Development Index – Indeks Pembangunan Manusia) menduduki peringkat ke-9. Reporters without borders atau kebebasan pers berada pada peringkat ke-44 sedangkan PDB per kapita berada pada peringkat ke-17.

Pertumbuhan penduduk Jepang diperkirakan akan berhenti sama sekali karena wanita lebih memilih berkarir. 20% penduduk berumur lebih dari 65 tahun pada tahun 2007. Perubahan dalam struktur demografi telah menimbulkan pelbagai isu sosial, terutama potensi penurunan tenaga kerja dan peningkatan biaya keselamatan sosial seperti rencana cuti umum. Ahli demografi pemerintahan Jepang kini dalam perdebatan hangat mengenai cara menangani masalah ini. Imigrasi dan penggalakan kelahiran kadangkala dicadangkan sebagai satu cara penyelesaian untuk membekali tenaga kerja muda untuk menyokong pertumbuhan masyarakat yang semakin tua ini dengan serikat buruh (shunto); hubungan baik dengan birokrasi pemerintahan, dan jaminan karir sepanjang hayat (shushin koyo) untuk hampir sepertiga tenaga kerja di kota, dan jaminan kontrak kerja bagi buruh. Perusahaan kecil dan sederhana, wanita, dan pekerja asing biasanya tidak mempunyai fasilitas seperti itu. Bagaimanapun, kebanyakan ciri tersebut semakin terkikis, dan keadaan ekonomi kini sedang berhadapan dengan situasi stagnasi.

Perindustrian merupakan sektor ekonomi yang paling utama buat Jepang yang amat bergantung pada impor bahan mentah dan minyak. Pertanian yang merupakan sektor ekonomi yang kecil, mendapatkan subsidi yang tinggi dan merupakan satu sektor ekonomi yang dilindungi. Hal Ini dapat dilihat dengan jelas pada pertanian yang melibatkan beras. Beras yang diimpor dikenakan pajak sebanyak 490% dan pemerintah hanya membolehkan kuota sebanyak 3% dari jumlah beras yang ada di pasaran beras. Selain melindungi pasaran beras, Jepang juga mengadakan usaha untuk menciptakan buah-buahan dan sayur-sayuran yang berkualitas tinggi dan enak. Biasanya Jepang mampu menampung keperluan beras rakyatnya sendiri, kecuali beras yang dipakai untuk membuat makanan ringan dan makanan olahan. Namun negara ini perlu mengimpor kira-kira 50% kebutuhan serealia dan makanan ternak. Jepang mempunyai salah satu industri perikanan yang terbesar di dunia yang mencakup hampir 15% penangkapan ikan seluruh dunia. Ada dugaan bahwa industri perikanan Jepang mengakibatkan jumlah ikan di laut berkurang secara drastis, khususnya ikan tuna.

Secara keseluruhan, selama tiga dekade, pertumbuhan ekonomi sebenarnya amat mengagumkan: rata-rata 10% pada dekade 60-an, rata-rata 5% pada 70-an, dan rata-rata 4% pada 80-an. Pertumbuhan ini mulai melesu pada dekade 90-an, terutama disebabkan dampak sampingan perburuhan secara berlebihan selepas tahun 1980-an dan dasar-dasar ekonomi pengurangan inflasi yang bertujuan membebaskan diri dari kelebihan spekulasi pasaran saham dan harga penjualan tanah. Usaha-usaha pemerintah untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi kurang berhasil dan terus terjepit pada tahun 2000 samapai tahun 2001.

Hal itu menyebabkan PM Junichiro Koizumi mengesahkan atau meluluskan - tetapi adakalanya gagal - Undang-undang perburuhan asing dan swastanisasi secara besar-besaran yang dipercaya dapat membantu merangsang kembali ekonomi Jepang. Sejauh ini Undang-undang tersebut kelihatan menunjukkan hasil dalam berbagai aspek seperti perburuhan asing, namun sejauh ini juga belum dapat membantu ekonomi Jepang untuk tumbuh kembali. Perdana Menteri Koizumi berhasil meluluskan rancangan swastanisasi besar termasuk swastanisasi semua kantor pos Jepang.

***

Yang jelas Jepang adalah negara maju dalam banyak hal sehingga datang ke sana lalu melakukan pengamatan langsung adalah sebuah pengalaman positif yang menguntungkan bagi seorang guru seperti saya.

Kita kembali pada cerita perjalanan saya ke Jepang. Minggu pagi pukul 07.20 waktu Jepang atau pukul 05.20 WIB, kami mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Narita.

Sedikit tidak nyaman ketika pesawat akan landing. Angin bertiup begitu besar sehingga pesawat terasa berguncang seperti bus yang sedang melintas di jalanan bergelombang dan berlubang. Untungnya hanya sebentar, sehingga tak lama kemudian pesawat bisa mendarat dengan lancar. Kami serombongan menuju pintu keluar dan berderet satu demi satu dengan tertib, diperiksa oleh petugas imigrasi sebelum keluar dari bandara. Masing-masing memerlukan waktu 10 sampai 15 menit.

Setiap orang yang masuk ke Jepang akan difoto otomatis (CCTV) ketika berdiri di depan counter pemeriksaan. Ketika semua sudah beres, kami bergegas keluar bandara. Seorang guide yang dipersiapkan oleh ITC Travel telah siap menjemput.

Kesan pertama ketika keluar dari bandara, angin basah mengandung es menerpa cukup keras, dingin sekali, udaranya bersih, tidak ada debu beterbangan. Mulut mengepulkan asap tiap kali berbicara, padahal saya tidak sedang merokok. Mungkin kalau difoto layaknya Cowboy Amerika dalm film-film yang saat berbicara mengepulkan asap akibat udara dingin di sekelilingnya.

Kami bergegas masuk ke dalam bus wisata yang sudah disiapkan untuk membawa ke tujuan berikutnya. Saya dan rombongan dijemput Grace Tanaka, pemandu kami selama di Jepang. Perempuan ini kelahiran Jakarta tetapi berdarah Jepang. Tinggi badannya kira-kira 160 cm. Dengan berat badan ideal dengan tingginya. Semampai, tidak gendut tidak pula kurus, berkulit kuning langsat, berhidung mancung, berambut hitam diurai sampai di bawah pundak. Kedua matanya sedikit sipit, fasih sekali berbahasa Indonesia dan banyak tahu tentang Indonesia. Bila berkomunikasi dengan kami dia menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan bila bicara dengan sopir bus otomatis menjadi Jepang banget.

Sungguh pagi ini saya lelah dan mengantuk setelah semalaman melayang-layang di udara. Andai Grace memberikan pilihan : tidur atau meneruskan perjalanan, pastilah kami semua lebih memilih istirahat dan tidur. Tetapi jadwal tour sudah diatur, mau tidak mau, suka tidak suka harus berangkat.

Pagi itu, dari Bandara Internsional Narita, kami naik bus wisata Seian Kenko menuju ke Ginza, pusat perbelanjaan elite dan termahal di Tokyo. Sepanjang perjalanan, kami melewati jalan tol, jalan pegunungan dan banyak jalan terowongan. Tidak ada orang berjalan atau bersepeda motor. Jalanan sepi seperti kota mati. Rumah-rumah penduduk yang kami lalui tertutup rapat semua karena sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tak peduli laki-laki dan perempuan. Dari Grace kami mendapat informasi bahwa hampir semua orang Jepang, baik laki-laki maupun perempuan semuanya bekerja. Jika sampai tidak bekerja, biasanya karena orangnya bodoh sehingga tidak diterima bekerja dimana-mana.

Ketika itu musim dingin sehingga padang rumput dan pepohonan (terutama bunga sakura yang kesohor itu) meranggas. Dari trotoar terlihat bangunan-bangunan kecil, ternyata itu adalah jalan menuju kereta api bawah tanah (subway). Tidak ada yang istimewa di sini sebab yang kami kunjungi adalah tempat perbelanjaan. Sejujurnya saya tidak enjoy dengan segala hal yang terkait dengan “belanja”, apalagi di komplek perbelanjaan termahal di Jepang, yang saya inginkan justru tak terbeli karena tidak memiliki cukup uang sampai kunjungan terakhir di Jepang.

Oh ya, ada satu hal yang terkesan di pusat perbelanjaan itu. Jalan-jalan double way di Ginza lebar sekali, bersih, tidak begitu ramai, tidak macet, dan tidak ada polisi lalu lintas. Semua orang menerapkan kedisiplinan tingkat tinggi ketika menyeberang jalan. Menunggu lampu merah menyala untuk menghentikan laju kendaraan, barulah menyeberang jalan, tidak ada saling serobot. Orang-orang tidak merokok di sembarang tempat kecuali di tempat yang telah ditentukan (biasanya ada tanda boleh merokok – smoking area). Jalanan bebas banjir, tidak nampak sepeda motor atau truk melintas di situ, mobilnya rata-rata bagus dan bersih mengkilat. Mobil tua dilarang dikendarai di jalan raya.

Jam makan siang tiba juga. Pada pukul 11.00-12.00 kami menikmati makan siang di Rumah Makan Hanamasa. Di sini, sekali lagi saya menemukan bentuk lain dari kedisiplinan, orang harus taat pada jadwal makan, tempat duduk, dan aturan makan harus diikuti. Misalnya, makanan yang sudah diambil harus dihabiskan. Jikalau tidak habis akan dikenakan biaya tambahan, didenda. Satu lagi, jika sudah memesan meja harus datang tepat waktu, jika lewat waktu yang telah dijanjikan tidak datang maka tempat itu diberikan kepada pengunjung berikutnya. Hanamasa termasuk rumah makan besar, bersih, higyenis.

Semua jenis makanan ditata rapi dalam lemari kaca transparan. Selain itu masing-masing meja dilengkapi tungku listrik untuk membakar ikan. Pengunjung boleh memilih bermacam ikan atau daging yang sudah diiris tipis lalu boleh makan-minum sekenyangnya, yang penting harus dihabiskan, tidak boleh ada sisa makanan di piring.

”Sayang tidak ada sambelnya ya pak” Saya nyeletuk pada teman semeja, Pak Jamudin.

“Eh.. iya Pak, serasa ada yang kurang ya” Jawabnya dengan mulut monyong mengunyah makanan.

Kami makan memakai sumpit, tidak ada sendok dan garpu. Menu siang itu : sup, kecap, lalapan, saus, merica, pasta, daging bakar dilengkapi dengan nasi yang pulen, uenak banget (enak sekali). Grace sempat memberikan penjelasan,“Beras Jepang harganya 700 yen per kg, paling enak di dunia, putih mengkilat dan wangi”

“Ah apa iya ? di Indonesia beras Bali, beras Jawa Barat juga enak” Sergah saya tak setuju.

Menu lain aku tidak kenal sehingga tidak berani mencicipi. Sekonyong-konyong saya teringat Riris, anak saya.

“Pak, beli shusi, bawa pulang ya !” Katanya menjelang keberangkatan saya ke Jepang.

”Shusi itu apa sih, Ris?”

”Shusi itu adalah makanan tradisonal Jepang, serba daging, dimakan dengan saus dan sayur segar”

Sebetulnya saat itu saya ingin mencoba shusi, sayang sekali persediaan telah habis atau sengaja tidak dihidangkan untuk kami yang dari Indonesia. Berapa harga masakan di situ kami tidaklah tahu. Kami hanya tinggal makan saja karena semua urusan selama di Jepang ditangani oleh ITC Tour.

Kenyang sudah. Kami melanjutkan perjalanan menuju Grand New Otori Hotel di Hamamatsu, Shizuoka. Perjalanan ini makan waktu 5 jam dari Ginza. Dan ternyata jalan ini telah dilewati pula saat kemarin keluar dari Bandara Narita. Grace masih tetap semangat bercerita sepanjang perjalanan tentang Jepang. Namun karena kondisi lelah, saya dan sebagian teman lain tertidur di dalam bus yang terus melaju.

Rombongan sampai di hotel pada pukul 17.30 waktu Jepang. Setelah urusan check rampung kami langsung beranjak tidur. Dua jam berselang, saya dan Pak Usman, teman sekamar dari SMK Takengon, bangun untuk makan malam. Selepas makan malam tidur lagi dikasur busa yang empuk.

Tiada lagi yang lebih nikmat malam itu kecuali perut kenyang dan bisa segera tidur pulas. Ketika keesokan paginya mentari menyibak halimun, kehidupan bergerak menapaki perjalan berikutnya.

oooOooo